Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini dan Feature » Letak Iman dan Dosa (Bagian Tiga)

Letak Iman dan Dosa (Bagian Tiga)

  • account_circle Media Sejahtera Indonesia
  • calendar_month Minggu, 19 Okt 2025
  • visibility 17
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Syamsul Noor Fajri

SIMPUL filsafat eksistensialisme Sartre tak sampai melambung ke dalam ruang hampa udara, berkat sentuhan epistemologi Filsafat Religius Experience Rudolf Otto. Dalam kontemplasi filsafatnya, Otto berusaha menjawab relung-relung temaram dari al-khauf, al-khudi, ar-roja’, dan wahdah al-wujud, serta manunggaling kawula gusti dari filsuf muslim.

Rudolf Otto kendati bertolak dari teologi Protestan tetapi tesisnya samasekali tidak bertolak belakang dengan pandangan filsuf muslim. Bahkan, dalam banyak hal Otto berhasil membangun suatu akselerasi koheren dengan banyak filsuf muslim.

Eksistensi iman yang tidak mendapatkan ruang interpretasi secara memadai dari Sartre, justeru menjadi bahasan menantang bagi Rudolf Otto. Iman memuat konsekuensi bipolar, dikotomis, ambivalen, dan terkadang juga diametral.

Konsekuensi “balasan pahala” dan “sanksi dosa” dari iman mendatangkan al-khauf (rasa takut mencekam) sekaligus perasaan terkurapi dan menyatu dengan Sang Causa Prima. Dalam terminologi Islam dikenal sebagai wahdah al-wujud dan dalam kajian mistisisme di Jawa disebut manunggaling kawula gusti (makhluk dan Khaliq menyatu). Ya, satu frekuensi dengan pernyataan Yesus Kristus dalam Injil Perjanjian Baru, “Barangsiapa melihat aku sama saja dengan melihat Bapak (Eufesus).

Keadaan penyatuan antara makhluk dan al-khalik dalam teologi samawi tidak terjadi secara merta. Rudolf Otto mengenalkan suatu proses intens, yang ia sebut mysterium tremendum et fascinosum.

Berbeda dengan “balasan pahala” yang menyenangkan, mysterium dari “sanksi dosa” sungguh terasa sangat menakutkan. Dunia medis menempatkan “perasaan berdosa” sebagai etiologi dari sakit. Dosa dipandang sebagai sebab (penyakit) dan keadaan sakit sebagai akibat. Hubungan sebab-akibat berikut penatalaksanaannya menjadi analisis dalam ilmu kesehatan mental.

Urusan dosa dalam kaitannya dengan penyakit dan sakit, memang berada di luar wewenang rumah sakit dan paramedis saja. Sekadar berkelakar, orang sehat secara tiba-tiba bisa mendadak jadi sakit bila melihat peristiwa pqrs dan abcd di rumah sakit. Excuse me… sekadar kelakar seluang.

Sebegitu terjalnya bukit dosa sehingga menjadi angle sentral dalam hidup manusia. Sampai kucing bertanduk pun, kita belum pernah menyaksikan ada harimau mendatangi ulama/pastur dan mengaku dosa. Sampai hari ini pun aku belum pernah dan pasti tak akan pernah melihat buaya membuat status di facebook dan menjadikan wall facebook seakan-akan “dinding ratapan”.

Aku tersenyum membayangkan lampu merah di perempatan jalan sesak dipenuhi bapak bebek dan ibu bebek, yang bergegas mau segera tiba di tempat kerja. Bebek-bebek itu takut terlambat dan mendapat sanksi potong gaji sebulan. Mau terpingkal-pingkal silakan… tapi jangan ngakak membayang bebek mengendarai motor bebek. It’s impossible…!

Imajinasikan saja sesuatu yang possible dan logis, misalnya seekor singa menerkam rusa di hutan belantara. Tubuh rusa itu dicabik-cabik. Darah berceceran. Singa lain datang dan ikut nimbrung makan daging rusa. Coba perhatikan ekspresi wajah singa, apakah ada penyesalan atau bersalah telah membunuh rusa yang samasekali tidak bersalah. Apa ada terbersit sedikit pun rasa itu?

Tentu saja tidak ada. Bagaimana mungkin singa menyesal? Bukanlah singa itu golongan hewan? Jadi mana ada cerita hewan pakai scene bawa perasaan (baper)? Hewan memang punya otak tapi tidak punya akal.

Nah, para pembaca manggut-manggut setuju. Hewan tidak punya akal. Berbeda sangat kontras dengan manusia. Tuhan mengaruniakan akal kepada manusia. Melalui potensi akal itulah manusia (an-naas) bisa memungkinkan naik peringkat menjadi insan kamil (manusia tercerahkan; terpilih). Insan kamil bisa dibilang berderajat 1-2 level di bawah ruhul kudus (Nabi). Jangan protes, diksi ruhul kudus sama dengan nabi tersebut secara eksplisit dalam Bibel.

Soalan di mana letak mendekati terjawab melalui terminologi qiyas “singa memangsa rusa” barusan. Siapa pun manusianya, sepintar apa pun dia pasti menganggap “singa memangsa rusa” itu memang wajar. Kendati singa memangsa rusa yang tidak bersalah tapi singa tetap saja dianggap tidak berdosa. Hanya makhluk berakal yang mengenal dosa. Tak ada dosa apa pun bagi makhluk tak berakal.

Artinya clear. Letak dosa itu di akal. Hanya manusia berakal yang menolak bahkan menjauhi korupsi. Sebab korupsi itu merugikan orang banyak dan itu merupakan dosa. Kesimpulannya, koruptor itu pasti akalnya tidak dipakai alias tidak berakal. Akalnya tertutup oleh nafsu ingin hidup mewah secara instan.

Manusia tertutup atau terhijab dari kebenaran Tuhan itu dalam terminologi Al-Qur’an disebut kafir. Itulah arti kafir yang sesungguhnya. Kata kafir itu bukan hasil buatan manusia, melainkan qiyas Tuhan untuk menyebut manusia yang Tuhan tutupkan pandangan hatinya dari kebenaran. Kata itu hampir mendekati pemaknaan seirama dengan “domba yang hilang/sesat di antara Bani Israil” dalam Taurat, Zabur, dan Injil. **

 

Penulis

Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rivano Osmar Menyampaikan Tiga Harapan Besar pada HUT Kemerdekaan ke-78 RI.

    Rivano Osmar Menyampaikan Tiga Harapan Besar pada HUT Kemerdekaan ke-78 RI.

    • calendar_month Kamis, 17 Agt 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 25
    • 0Komentar

    Jakarta, InfomsiNews–Pengusaha melinial dibidang pertanian produksi coklat sekaligus Ketua Yayasan Mitra Sejahtera Indonesia (MSI), Rivano Osmar menyampaikan kritikkan masukan dan harapan pada momentum Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia Ke-78 tahun di tahun 2023 ini. Rivano mengharapkan tiga harapan besar dalam HUT RI ke-78 yang jatuh pada hari, Kamis tanggal 17 Agustus 2023. Pertama, merdeka […]

  • Ketua MPR RI : Menghayati Berkah Idul Fitri Bagi Harmonisasi Kehidupan Bersama

    Ketua MPR RI : Menghayati Berkah Idul Fitri Bagi Harmonisasi Kehidupan Bersama

    • calendar_month Rabu, 10 Apr 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 22
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. H. Bambang Soesatyo, S.E., S.H., M.B.A AKHIRNYA, akan selalu ada momentum bagi semua orang memulihkan kelembutan hati yang sejatinya ada pada setiap pribadi. Bagi masyarakat Indonesia yang agamis, salah satu momentum itu adalah Puasa Ramadhan yang kemudian memuncak pada perayaan hari kemenangan, Idul Fitri.  Hati yang lembut sebagai berkah Idul Fitri 1445 […]

  • Wawancara Imajiner dengan ESP E-RA Membangunkan Sumsel dari Tidur Panjang

    Wawancara Imajiner dengan ESP E-RA Membangunkan Sumsel dari Tidur Panjang

    • calendar_month Minggu, 6 Okt 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 33
    • 0Komentar

    E-RA merupakan koordinat definitif hasil perpaduan antara absis Ir. H. Eddy Santana Putra, M.T (ESP) dan ordinat Dr. Riezky Aprilia, S.H.,M.H. (RA). E-RA terpanggil untuk memenuhi aspirasi banyak tokoh masyarakat Sumsel agar tampil memimpin Sumsel mencapai Kegemilangan, sebagaimana Kegemilangan Sriwijaya berhasil menjadi ikon terbesar di Nusantara, yang menorehkan sejarah mendunia dalam rentang kekuasaan tak kurang […]

  • Sri Mulyani Ungkap Sinyal Ekonomi 2023 Bakalan Seram Gelap Gulita

    Sri Mulyani Ungkap Sinyal Ekonomi 2023 Bakalan Seram Gelap Gulita

    • calendar_month Selasa, 1 Agt 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 30
    • 0Komentar

    Jakarta_Infomsi.News–Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkap adanya sinyal kalau ekonomi dunia pada 2023 ini akan gelap gulita atau Mati Lampu. Kondisi ini membuat Indonesia harus kembali mengencangkan sabuk pengamannya. Wanita asal Lampung itu menilai kondisi sedikit lebih baik dari yang diperkirakan awal dan sebelumnya organisasi dunia telah memproyeksikan pada 2023 ini akan banyak negara yang […]

  • PADMA Indonesia Desak Pemda TTS Segera Bentuk Gugus Tugas PP TPPO

    PADMA Indonesia Desak Pemda TTS Segera Bentuk Gugus Tugas PP TPPO

    • calendar_month Jumat, 12 Jul 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 18
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com-Ketua Dewan Pembina PADMA Indonesia  (Pelayanan Advokasi Keadilan dan Perdamaian Indonesia), Gabriel Goa menegaskan,pentingnya  Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Oleh karena itu ia merekomendasikan agar lembaga tersebut segera dibentuk oleh Pemerintah di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Kepulauan NTT. “Pasal 28 G ayat 2 UUD Tahun 1945 mengamanatkan bahwa setiap […]

  • Soal 5 Proposal Kenegaraan DPD RI, LaNyalla: DPD RI dan Stakeholder Bangsa Akan Desak MPR

    Soal 5 Proposal Kenegaraan DPD RI, LaNyalla: DPD RI dan Stakeholder Bangsa Akan Desak MPR

    • calendar_month Sabtu, 30 Sep 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 25
    • 0Komentar

    SURABAYA,MSINEWS.COM – Banyak yang menanyakan sejauh mana perkembangan terkait usulan 5 Proposal Kenegaraan DPD RI tentang penguatan sistem bernegara. Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti menyampaikan bahwa usulan tersebut telah dilengkapi dengan Naskah Akademik dan terus diresonansikan kepada seluruh stakeholder bangsa. “Kemudian seluruh stakeholder bangsa tersebut bersama DPD RI yang akan mendesak MPR agar […]

expand_less