Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini dan Feature » Makanan Ready To Eat: Penyelamat di Saat Darurat, Penopang Kemanusiaan

Makanan Ready To Eat: Penyelamat di Saat Darurat, Penopang Kemanusiaan

  • account_circle Media Sejahtera Indonesia
  • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
  • visibility 186
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh ; Kang Eep,Indonesian Locavore Society

KETIKA bencana datang, tidak ada yang lebih berharga selain hal-hal paling dasar: keselamatan, air, dan makanan. Namun kita sering lupa satu kenyataan sederhana tapi menentukan: di hari-hari pertama setelah bencana, makanan yang dibutuhkan masyarakat bukan yang harus dimasak terlebih dahulu, tetapi yang bisa langsung dimakan.

Korban bencana sering berada di situasi tanpa listrik, tanpa kompor, tanpa alat masak, tanpa air panas, bahkan tanpa ruang aman untuk sekadar menyalakan api. Dapur umum pun tidak selalu bisa hadir di jam pertama atau hari pertama; akses terputus, relawan belum terkonsolidasi, dan logistik belum tersusun rapi. Pada titik inilah, makanan ready to eat (RTE) menjadi nyawa: buka, makan, bertahan.

Kita membutuhkan sumber makanan yang lengkap, protein, karbohidrat, sayuran, mineral, hingga makanan untuk anak dan lansia, yang aman, sehat, dan bisa langsung dikonsumsi. Dari protein seperti rendang, ayam suwir, ikan bumbu kuning, hingga karbohidrat seperti nasi putih RTE, nasi jagung, nasi singkong, atau ubi kukus siap santap. Bahkan sayur seperti sayur asem, lodeh, atau tumisan pun bisa diolah menjadi RTE yang awet tanpa pengawet berbahaya.

Inilah konsep pangan darurat modern: makanan lengkap, bernutrisi, dan siap santap — bukan sekadar makanan cepat, tetapi makanan yang menyelamatkan.

Bencana Mengajarkan Kita: Kita Perlu Cadangan Pangan yang Bisa Dimakan Seketika

Ketika gempa mengguncang, ketika banjir bandang memutus akses, ketika longsor menelan desa, masyarakat tidak bisa menunggu. Mereka butuh karbohidrat yang mengembalikan tenaga, protein yang menjaga daya tahan tubuh, sayuran yang menstabilkan nutrisi, dan makanan anak yang aman serta lembut.

Mie instan tidak cocok tanpa air panas. Beras tidak bisa dimakan tanpa dimasak. Sayuran tidak bisa dikonsumsi mentah. Bahkan makanan kaleng pun sering membutuhkan pemanasan untuk rasa optimal.

Tapi RTE menjembatani kebutuhan dasar itu: praktis → aman → tahan lama → langsung menguatkan.

Ini bukan sekadar inovasi, tetapi investasi kemanusiaan.

Namun Ada Syarat Penting: RTE Tidak Boleh Menjadi Makanan Berbahaya

Akan menjadi ironi jika makanan yang dikirim untuk menyelamatkan justru merusak kesehatan. Karena itu, produksi makanan RTE harus mengikuti prinsip yang jelas:

1. Tanpa pengawet kimia yang berbahaya
RTE modern tidak membutuhkan formalin, boraks, nitrit berlebih, atau bahan tambahan berbahaya lainnya. Teknologi sudah sangat maju.

2. Menggunakan teknologi pengolahan yang aman
Teknologi seperti:
retort (sterilisasi suhu tinggi)
autoclave makanan
pasteurisasi modern
bahkan HPP (high pressure processing)
mampu membuat makanan tahan 1–2 tahun tanpa pengawet, sambil mempertahankan:
nutrisi,
aroma,
tekstur,
dan keamanan pangan.

3. Menjaga nutrisi tetap utuh
Makanan darurat harus tetap:
tinggi protein,
tinggi serat,
rendah bahan kimia,
aman untuk anak dan orang tua,
dan layak menjadi konsumsi harian bila diperlukan.

4. Mengangkat potensi pangan lokal
Rendang RTE, pepes RTE, sayur asem RTE, nasi singkong RTE, ubi jalar RTE, semua ini bukan hanya logistik darurat, tapi juga bentuk kedaulatan pangan.

RTE Bukan Sekadar Makanan Praktis — Ini Tentang Kesiapsiagaan Nasional

Dengan perubahan iklim dan meningkatnya frekuensi bencana, Indonesia membutuhkan paradigma baru:

Setiap rumah perlu memiliki cadangan RTE.
Setiap pemerintah daerah perlu memiliki bank pangan RTE.
Setiap UMKM pangan bisa bergerak masuk ke industri RTE.

Produksi makanan RTE bukan hanya bisnis, tapi bagian dari strategi bangsa:
menjaga masyarakat ketika bencana datang,
memastikan nutrisi tetap terpenuhi,
dan mengurangi ketergantungan pada makanan impor atau industri besar.

RTE adalah bagian dari ketahanan pangan, kemanusiaan, dan martabat bangsa.

Dengan Makanan Siap Santap, Kita Menjaga Kehidupan

Makanan bukan sekadar energi. Ia adalah harapan, kekuatan, dan tanda bahwa manusia tidak dibiarkan sendirian dalam situasi paling rentan. Ketika kita menyiapkan RTE yang sehat, aman, dan berbasis pangan lokal, kita sedang mempersiapkan pelindung senyap bagi masyarakat.

Karena dalam momen-momen paling gelap, sering kali yang menyelamatkan bukan pidato panjang, bukan program besar, tetapi sekotak makanan yang bisa langsung dimakan.

 

Penulis

Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mendag Zulkifli Hasan Minta Pedagang Toko Harus Manfaatkan Niaga Elektronik

    Mendag Zulkifli Hasan Minta Pedagang Toko Harus Manfaatkan Niaga Elektronik

    • calendar_month Senin, 16 Okt 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 220
    • 0Komentar

    MAKASSAR,MSINEWS.COM – Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkfili Hasan meminta para pedagang konvensional baik di pasar dan pusat perbelanjaan memanfaatkan teknologi niaga elektronik atau Ecommerce. Mendag menjelaskan agar tidak tertinggal dan kalah dalam persaingan, para pedagang harus bisa memanfaatkan teknologi yang terus berkembang dan beradaptasi dengan tuntutan pasar. Hal inj disampaikan Mendag Zulkifli Hasan saat mengunjungi New […]

  • Calon Legislatif Rela Jual Ginjal Demi Biaya Kampanye Pemilu 2024

    Calon Legislatif Rela Jual Ginjal Demi Biaya Kampanye Pemilu 2024

    • calendar_month Selasa, 16 Jan 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 209
    • 0Komentar

    Bondowoso, MSINews.com – Erfin Dewi Sudanto, calon legislatif (caleg) Partai PAN nomor urut 9 Daerah Pemilihan 1 (Dapil 1), warga Desa Bataan, Kecamatan Tanggarang, Kabupaten Bondowoso, nekat menjual ginjalnya untuk membiayai kampanye Pemilu 2024. Pria kelahiran 23 Juni 1976 tersebut mengambil langkah ekstrem ini sebagai bukti keseriusannya. Erfin telah membuat surat pernyataan yang bermaterai, menandatanganinya […]

  • Hari Ini,20 Maret, KPU Tetapkan Hasil Pemilu 2024

    Hari Ini,20 Maret, KPU Tetapkan Hasil Pemilu 2024

    • calendar_month Rabu, 20 Mar 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com-Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Rabu (20/3/2024) akan mengumumkan hasil rekapitulasi hasil pemilihan umum legislatif . Hal itu disampaikan Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI August Mellaz kepada wartawan di jakarta. Menurutnya, dari proses rekapitulasi yang sedang berjalan hingga hari ke-20, KPU sudah mengesahkan 33 dari 38 provinsi di Indonesia. KPU juga menjadwalkan Provinsi Papua Barat […]

  • Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat : Gerakan Pencegahan Malaria Harus Konsisten

    Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat : Gerakan Pencegahan Malaria Harus Konsisten

    • calendar_month Rabu, 1 Mei 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com-Wakil Ketua MPR RI, Dr. Lestari Moerdijat mengatakan, bahwa gerakan pencegahan penyakit malaria harus konsisten dilakukan dengan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang cara penanggulangan penyakit yang disebarkan nyamuk Anopheles itu. “Meski ada kecenderungan penurunan jumlah kasus malaria di tanah air, ternyata Indonesia masih menjadi salah satu penyumbang angka kematian akibat malaria di dunia. Sebuah gerakan untuk […]

  • KLHK Klaim Polusi Udara di Jakarta Terburuk di Dunia, Begini Penjabarannya

    KLHK Klaim Polusi Udara di Jakarta Terburuk di Dunia, Begini Penjabarannya

    • calendar_month Minggu, 13 Agt 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Jakarta, Infomsi–Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengklaim polusi udara di Jakarta merupakan yang terburuk di dunia. Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK Sigit Reliantoro mengatakan perlu ada perbandingan data untuk melihat indeks kualitas udara di Ibu Kota. “Kalau diframing bahwa kita itu terkotor, tercemar di seluruh dunia nomor satu, itu yang perlu […]

  • MTQ Nasional 2024: Sumsel Sabet Peringkat Lima Besar

    MTQ Nasional 2024: Sumsel Sabet Peringkat Lima Besar

    • calendar_month Senin, 16 Sep 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 196
    • 0Komentar

    Palembang, msinews.com – Untuk kali pertama dalam sejarah Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN), kafilah Sumsel menempati peringkat lima besar nasional. Perhelatan MTQN XXX 2024 di Samarinda, Kalimantan Timur resmi ditutup. Ahad malam (15/09) yang berlangsung 06 – 16 September 2024 ditutup Menteri Agama Yakut Cholil Qoumas di arena stadion Kadrie Oening. Dalam MTQ Nasional kali […]

expand_less