Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini dan Feature » Makanan Ready To Eat: Penyelamat di Saat Darurat, Penopang Kemanusiaan

Makanan Ready To Eat: Penyelamat di Saat Darurat, Penopang Kemanusiaan

  • account_circle Media Sejahtera Indonesia
  • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
  • visibility 87
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh ; Kang Eep,Indonesian Locavore Society

KETIKA bencana datang, tidak ada yang lebih berharga selain hal-hal paling dasar: keselamatan, air, dan makanan. Namun kita sering lupa satu kenyataan sederhana tapi menentukan: di hari-hari pertama setelah bencana, makanan yang dibutuhkan masyarakat bukan yang harus dimasak terlebih dahulu, tetapi yang bisa langsung dimakan.

Korban bencana sering berada di situasi tanpa listrik, tanpa kompor, tanpa alat masak, tanpa air panas, bahkan tanpa ruang aman untuk sekadar menyalakan api. Dapur umum pun tidak selalu bisa hadir di jam pertama atau hari pertama; akses terputus, relawan belum terkonsolidasi, dan logistik belum tersusun rapi. Pada titik inilah, makanan ready to eat (RTE) menjadi nyawa: buka, makan, bertahan.

Kita membutuhkan sumber makanan yang lengkap, protein, karbohidrat, sayuran, mineral, hingga makanan untuk anak dan lansia, yang aman, sehat, dan bisa langsung dikonsumsi. Dari protein seperti rendang, ayam suwir, ikan bumbu kuning, hingga karbohidrat seperti nasi putih RTE, nasi jagung, nasi singkong, atau ubi kukus siap santap. Bahkan sayur seperti sayur asem, lodeh, atau tumisan pun bisa diolah menjadi RTE yang awet tanpa pengawet berbahaya.

Inilah konsep pangan darurat modern: makanan lengkap, bernutrisi, dan siap santap — bukan sekadar makanan cepat, tetapi makanan yang menyelamatkan.

Bencana Mengajarkan Kita: Kita Perlu Cadangan Pangan yang Bisa Dimakan Seketika

Ketika gempa mengguncang, ketika banjir bandang memutus akses, ketika longsor menelan desa, masyarakat tidak bisa menunggu. Mereka butuh karbohidrat yang mengembalikan tenaga, protein yang menjaga daya tahan tubuh, sayuran yang menstabilkan nutrisi, dan makanan anak yang aman serta lembut.

Mie instan tidak cocok tanpa air panas. Beras tidak bisa dimakan tanpa dimasak. Sayuran tidak bisa dikonsumsi mentah. Bahkan makanan kaleng pun sering membutuhkan pemanasan untuk rasa optimal.

Tapi RTE menjembatani kebutuhan dasar itu: praktis → aman → tahan lama → langsung menguatkan.

Ini bukan sekadar inovasi, tetapi investasi kemanusiaan.

Namun Ada Syarat Penting: RTE Tidak Boleh Menjadi Makanan Berbahaya

Akan menjadi ironi jika makanan yang dikirim untuk menyelamatkan justru merusak kesehatan. Karena itu, produksi makanan RTE harus mengikuti prinsip yang jelas:

1. Tanpa pengawet kimia yang berbahaya
RTE modern tidak membutuhkan formalin, boraks, nitrit berlebih, atau bahan tambahan berbahaya lainnya. Teknologi sudah sangat maju.

2. Menggunakan teknologi pengolahan yang aman
Teknologi seperti:
retort (sterilisasi suhu tinggi)
autoclave makanan
pasteurisasi modern
bahkan HPP (high pressure processing)
mampu membuat makanan tahan 1–2 tahun tanpa pengawet, sambil mempertahankan:
nutrisi,
aroma,
tekstur,
dan keamanan pangan.

3. Menjaga nutrisi tetap utuh
Makanan darurat harus tetap:
tinggi protein,
tinggi serat,
rendah bahan kimia,
aman untuk anak dan orang tua,
dan layak menjadi konsumsi harian bila diperlukan.

4. Mengangkat potensi pangan lokal
Rendang RTE, pepes RTE, sayur asem RTE, nasi singkong RTE, ubi jalar RTE, semua ini bukan hanya logistik darurat, tapi juga bentuk kedaulatan pangan.

RTE Bukan Sekadar Makanan Praktis — Ini Tentang Kesiapsiagaan Nasional

Dengan perubahan iklim dan meningkatnya frekuensi bencana, Indonesia membutuhkan paradigma baru:

Setiap rumah perlu memiliki cadangan RTE.
Setiap pemerintah daerah perlu memiliki bank pangan RTE.
Setiap UMKM pangan bisa bergerak masuk ke industri RTE.

Produksi makanan RTE bukan hanya bisnis, tapi bagian dari strategi bangsa:
menjaga masyarakat ketika bencana datang,
memastikan nutrisi tetap terpenuhi,
dan mengurangi ketergantungan pada makanan impor atau industri besar.

RTE adalah bagian dari ketahanan pangan, kemanusiaan, dan martabat bangsa.

Dengan Makanan Siap Santap, Kita Menjaga Kehidupan

Makanan bukan sekadar energi. Ia adalah harapan, kekuatan, dan tanda bahwa manusia tidak dibiarkan sendirian dalam situasi paling rentan. Ketika kita menyiapkan RTE yang sehat, aman, dan berbasis pangan lokal, kita sedang mempersiapkan pelindung senyap bagi masyarakat.

Karena dalam momen-momen paling gelap, sering kali yang menyelamatkan bukan pidato panjang, bukan program besar, tetapi sekotak makanan yang bisa langsung dimakan.

 

Penulis

Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Yaqut Cholil

    Yaqut Cholil Sindir Agama Jagan Jadi Alat Politik, Sipa yang Dimaksud?

    • calendar_month Senin, 4 Sep 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Jakarta, Jelang tahun politik 2024, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengimbau masyarakat agar tidak memilih pemimpin yang memecah belah umat. “Harus dicek betul. Pernah nggak calon pemimpin kita, calon presiden kita ini, memecah-belah umat. Kalau pernah, jangan dipilih,” ujar Menag Yaqut di Garut, Minggu (3/9/2023). Ia juga meminta masyarakat tidak memilih calon pemimpin yang menggunakan […]

  • Peringati HKMAN 2025, Aman Desak Pengesahan RUU  Masyarakat Adat

    Peringati HKMAN 2025, Aman Desak Pengesahan RUU  Masyarakat Adat

    • calendar_month Senin, 17 Mar 2025
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 92
    • 0Komentar

    MSINEWS.COM-Pada tanggal 17 Maret 1999, untuk pertama kalinya dilaksanakan Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN – selanjutnya disebut KMAN I) di Hotel Indonesia, Jakarta. Selanjutnya, KMAN I menetapkan terbentuknya Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) sebagai wadah perjuangan Masyarakat Adat. Sejak saat itu, tanggal 17 Maret diperingati sebagai Hari Kebangkitan Masyarakat Adat Nusantara (HKMAN) dan ulang tahun […]

  • Komisi 1 DPR RI Memastikan, RUU Penyiaran Tidak Mengancam Kebebasan Pers

    Komisi 1 DPR RI Memastikan, RUU Penyiaran Tidak Mengancam Kebebasan Pers

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 91
    • 0Komentar

    MSINEWS.COM,Jakarta-Anggota Komisi I DPR RI, Dr. Dave Akbarsah Fikarno Laksono, M.E, mengatakan bahwa, undang-undang penyiaran yang sedang dibahas di meja parlemen hanya mengatur kebijakan dan regulasi konten di berbagai media platform digital. Mengatur perkembangan teknologi seperti artis kecil atau kecerdasan buatan. Komisi 1 DPR RI memastikan rancangan undang-undang RUU penyiaran tidak mengancam kebebasan pers. Pernyataan […]

  • Wamendagri Dorong Rumah Sakit Daerah Laksanakan Transformasi Tata Kelola yang Unggul

    Wamendagri Dorong Rumah Sakit Daerah Laksanakan Transformasi Tata Kelola yang Unggul

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 62
    • 0Komentar

    PONTIANAK,MSINEWS.COM – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus mendorong rumah sakit daerah (RSD) melaksanakan transformasi tata kelola yang unggul. Menurutnya, RSD tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga harus memberikan pelayanan yang empatik, berintegritas, profesional, serta menjadi tempat masyarakat memperoleh harapan, pelindungan, dan layanan kesehatan yang berkualitas. Hal tersebut disampaikan Wiyagus pada Rapat Kerja […]

  • Ini Tiga Opsi Atasi PPDB di Tahunn Ajaran Baru dari Komsi X DPR 

    Ini Tiga Opsi Atasi PPDB di Tahunn Ajaran Baru dari Komsi X DPR 

    • calendar_month Rabu, 10 Jul 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com-Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan, menyampaikan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf pun memberikan masukan perubahan mendasar untuk mengatasi persoalan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB)setiap tahgunnya. Ia menawarkan tiga opsi untuk mengatasi persoalan peserta didik baru bagi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) untuk mengatasi persoalan PPDB. “Tujuh […]

  • Praktisi Hukum Indonesia (PHI) Semar Dju

    KKB Pegunungan, PHI Minta Perkuat Intelejen BIN dan Kepolisian

    • calendar_month Sabtu, 30 Sep 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Jakarta, MSINews.com – Keberadaan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Pegunungan Binyang hingga ke Provinsi Papua Pegunungan menjadi perhatian serius bagi masyarakat dan pemerintah Indonesia. Upaya keras telah dilakukan oleh aparat keamanan dalam menangani ancaman yang ditimbulkan KKB, tetapi tantangan ini masih terus berlanjut. Praktisi Hukum Indonesia (PHI)KKB Semar Dju mendesak Badan Intelijen Negara (BIN) Indonesia […]

expand_less