Padre Marco Solo : Refleksi Perdamaian Paus Leo XIV Melawan Perang
- account_circle Media Sejahtera Indonesia
- calendar_month Senin, 13 Apr 2026
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh : Padre Markus Solo Kewuta SVD
DI TENGAH dunia yang sedang dilanda perang-perang besar yang membuat semua orang takut dan cemas karena masa depan yang tidak menentu, Paus Leo XIV dan Gereja Katolik mempersembahkan doa khusus memohon perdamaian, Sabtu malam, 11 April 2026 di Basilika Santo Petrus Vatikan, dan di berbagai belahan dunia.
Romo Markus Solo Kewuta SVD, satu-satunya pejabat Takhta Suci yang berasal dari Indonesia, mengajak kita semua menyatu dalam doa dan mengikuti seruan Paus Leo di dalam refleksinya ini.
“Iman dan doa dapat memindahkan gunung. Mari menyatu dalam doa dan mengikuti seruan Paus Leo di dalam refleksinya ini. Sebarkan ke semua orang dan ke berbagai tempat, agar dunia kita segera kembali kepada perdamaian dan kedamaian sejati. Perang adalah kekalahan, musuh peradaban dan kesejahteraan bersama. Sekali lagi, silakan share. Terima kasih,” tutur Staf Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci yang akrab disapa Padre Marco melalui kanal youtube PdM. Simak di sini:
https://www.youtube.com/watch?v=EI-YS75Q-bs.
Berikut transkrip Padre Marco atas Refleksi renungan Paus Leo XIV pada doa malam untuk perdamaian di Basilika Santo Petrus Vatikan, Sabtu 11 April 2026.
Saudara-saudari terkasih, doa Anda adalah ungkapan iman yang menurut perkataan Yesus dapat memindahkan gunung. Bandingkan Injil Matius pasal 17 ayat 20. Terima kasih telah menerima undangan ini untuk berkumpul di sini di makam Santo Petrus dan di begitu banyak tempat lain di seluruh dunia untuk berdoa bagi perdamaian.
Perang memecah belah, tetapi harapan mempersatukan. Kesombongan menginjak-injak orang lain tetapi kasih mengangkat. Penyembahan berhala membutakan kita, tetapi Allah yang hidup menerangi.
Sahabat-sahabatku terkasih, yang dibutuhkan hanyalah sedikit iman, hanya remah iman untuk menghadapi saat-saat dramatis dalam sejarah ini secara bersama-sama sebagai umat manusia dan bersama umat manusia seluruh dunia.
Doa bukanlah tempat berlindung untuk menghindari tanggung jawab kita. Bukan pula obat bius untuk mematikan rasa sakit yang ditimbulkan oleh begitu banyak ketidakadilan. Sebaliknya doa adalah tanggapan yang paling tanpa pamri universal dan transformatif terhadap kematian.
Kita adalah umat yang telah bangkit di dalam diri kita masing-masing. Di dalam setiap manusia, guru spiritual kita mengajarkan perdamaian, mendorong kita menuju perjumpaan, dan menginspirasi kita untuk memohon.
Marilah kita bangkit dari reruntu Tuhan.
Tidak ada yang dapat membatasi kita pada takdir yang telah ditentukan bahkan di dunia ini di mana tampaknya tidak pernah ada cukup kuburan karena orang terus menyalibkan satu sama lain dan melenyapkan kehidupan tanpa memperhatikan keadilan dan belas kasihan.
Dalam konteks krisis perang Irak tahun 2003, Santo Yohanes Paulus, seorang pembela perdamaian yang tak kena lelah berkata dengan penuh keprihatinan, demikian, “Saya termasuk generasi yang hidup melalui perang dunia kedua dan syukur kepada Tuhan selamat dari perang ini. Saya memiliki kewajiban untuk mengatakan kepada semua generasi muda, kepada mereka yang lebih muda dari saya yang belum mengalami pengalaman peperangan ini, tidak ada lagi perang. Seperti yang dikatakan Paus Paulus ke-6 selama kunjungan pertamanya ke perserikatan bangsa-bangsa.
Kita harus melakukan segala yang mungkin. Kita tahu betul bahwa perdamaian tidak mungkin dicapai dengan harga berapun. Tetapi kita semua tahu betapa besar tanggung jawab ini.
Doa Angelus Paus Yohanes Paulus 16 Maret 2003.
Malam ini kata Paus Leo, saya menjadikan seruan Paus Yohanes Paulus ke-2 ini sebagai seruan saya juga karena relevansinya sangat terasa hingga saat ini. Doa mengajarkan kita bagaimana bertindak.
Dalam doa keterbatasan kemampuan manusia kita disatukan dengan kemungkinan tak terbatas dari Tuhan. pikiran, kata-kata, dan perbuatan kemudian memutus siklus kejahatan dan ditempatkan untuk melayani kerajaan Allah. Sebuah kerajaan di mana tidak ada pedang, tidak ada drone, tidak ada pembalasan, tidak ada penyepelehan kejahatan, tidak ada keuntungan yang tidak adil, tetapi hanya martabat, pengertian, dan pengampunan.
Di sinilah kita menemukan benteng melawan ilusi kemahakuasaan yang mengelilingi kita dan menjadi semakin tidak terduga dan agresif. Keseimbangan dalam keluarga manusia telah sangat terganggu. Bahkan nama kudus Tuhan, Tuhan kehidupan diseret ke dalam wacana kematian.
Dunia saudara dan saudari dengan satu Bapa surgawi lenyap seperti dalam mimpi buruk. memberi jalan kepada realitas yang dipenuhi musuh. Kita dihadapkan dengan ancaman ahli-ahli undangan untuk mendengarkan dan bersatu.
Saudara dan saudari, mereka yang berdoa menyadari keterbatasan mereka sendiri, mereka tidak membunuh atau mengancam dengan kematian. Sebaliknya, kematian memperbudak mereka yang telah membelakangi Allah yang hidup menjadikan diri mereka sendiri dan kekuatan mereka menjadi berhala yang bisu, buta, dan tuli. Bandingkan kitab Mazmur pasal 115 ayat 4 sampai 8. Yang kepadanya mereka mengorbankan setiap nilai, menuntut agar seluruh dunia bertekuk lutut. Cukup sudah penyembahan diri dan uang, cukup sudah pameran kekuasaan. Cukup sudah perang. Kekuatan sejati ditunjukkan dalam melayani kehidupan.
Dengan kesederhanaan Injil, Santo Paus Yohanes ke-23 pernah menulis demikian, manfaat perdamaian akan dirasakan di mana-mana oleh individu, oleh keluarga, oleh bangsa, oleh seluruh umat manusia dan menggemahkan kata-kata tajam Paus Pius ke-12. Ia Paus Yohanes ke-23 menambahkan, “Tidak ada yang hilang oleh perdamaian, tetapi segala sesuatu dapat hilang oleh perang.”
Surat Ensiklik Pacem Interis dari Paus Yohanes 23 nomor 116. Oleh karena itu, marilah kita satukan kekuatan moral dan spiritual jutaan dan miliaran pria dan wanita, muda dan tua yang hari ini memilih untuk percaya pada perdamaian, menyembuhkan luka, dan memperbaiki kerusakan yang ditinggalkan oleh kegilaan perang.
Saya menerima banyak sekali surat dari anak-anak di daerah konflik. Dalam membacanya kita melihat melalui lensa kepolosan semua kengerian dan ketidak manusiaan dari tindakan yang dibanggakan oleh sebagian orang dewasa. Marilah kita mendengarkan suara anak-anak.
Saudara-saudari terkasih, tentu ada tanggung jawab yang mengikat yang dibebankan kepada para pemimpin bangsa. Kepada mereka kita berseru, “Hentikan perang, sudah waktunya untuk perdamaian.
Duduklah di meja dialog dan mediasi, bukan di meja tempat perencanaan persenjataan ulang dan tindakan mematikan diputuskan. Namun, ada tanggung jawab yang tidak kalah pentingnya yang dibebankan kepada kita semua pria dan wanita dari seluruh dunia.
Kita adalah orang-orang yang menolak perang bukan hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam perbuatan. Doa mengajak kita untuk meninggalkan segala kekerasan yang masih tersisa di hati dan pikiran kita.
Marilah kita berpaling kepada kerajaan perdamaian yang dibangun hari demi hari di rumah kita, sekolah, lingkungan, dan komunitas sipil serta keagamaan kita. Sebuah kerajaan yang melawan polemik dan keputusasaan melalui persahabatan dan budaya perjumpaan.
Marilah kita percaya sekali lagi pada cinta, moderasi, dan politik yang baik. Kita harus membentuk diri kita sendiri dan terlibat secara pribadi masing-masing mengikuti panggilan kita sendiri. Setiap orang memiliki tempat dalam mosaik perdamaian. Doa Rosario seperti bentuk-bentuk doa klasik lainnya telah menyatukan kita malam ini dalam ritmenya yang mantap yang dibangun di atas pengulangan perdamaian. berkembang dengan cara yang sama. Kata demi kata, perbuatan demi perbuatan.
Seperti batu yang dikikis setetes demi setetes atau kain yang ditenun jahitan demi jahitan. Ini adalah ritme kehidupan yang lambat. Tanda kesabaran Tuhan. Kita tidak boleh membiarkan diri kita kewalahan oleh kecepatan dunia yang tidak tahu apa yang dikejarnya.
Sebaliknya kita harus kembali melayani ritme kehidupan, harmoni ciptaan, dan menyembuhkan luka-lukanya. Seperti yang diajarkan Paus Fransiskus kepada kita, ada juga kebutuhan akan para pembawa damai, pria dan wanita yang siap bekerja dengan berani dan kreatif untuk memulai proses penyembuhan dan perjumpaan yang diperbaharui.
Surat Ensiklik Fratelituti dari Paus Fransiskus nomor 225. Memang ada sebuah arsitektur perdamaian yang mana berbagai lembaga masyarakat berkontribusi masing-masing sesuai dengan bidang keahliannya sendiri. Tetapi ada juga sebuah seni perdamaian yang melibatkan kita. Dikutip juga dari ensiklik Fratelituti Paus Fransiskus nomor 231.
Saudara-saudari terkasih, marilah kita pulang ke rumah setelah berkomitmen untuk berdoa tanpa henti dan tanpa lelah. Sebuah komitmen untuk pertobatan hati yang mendalam. Gereja adalah umat yang besar yang melayani rekonsiliasi dan perdamaian.
Gereja maju tanpa ragu-ragu. Bahkan ketika menolak logika perang dapat menyebabkan kesalahpahaman dan penghinaan. Gereja mewartakan Injil perdamaian dan menanamkan ketaatan kepada Tuhan daripada otoritas manusia manapun. Terutama ketika martabat inheren manusia lain terancam oleh pelanggaran hukum internasional yang terus-menerus di seluruh dunia. Diharapkan setiap komunitas menjadi rumah perdamaian, tempat orang belajar bagaimana meredakan permusuhan melalui dialog, tempat keadilan dipraktikkan dan pengampunan dihargai.
Sekarang lebih dari sebelumnya kita harus menunjukkan bahwa perdamaian bukanlah utopia. Dikutip dari pesan Paus Leo ke-14 sendiri untuk hari perdamaian dunia ke-69, 1 Januari 2026. Saudara-saudari dan setiap bahasa, bangsa dan negara, kita adalah satu keluarga yang menangis, berharap, dan bangkit kembali. Tidak ada lagi perang. Perjalanan tanpa kembali. Tidak ada lagi perang. Lingkaran setan kesedihan dan kekerasan. Kutipan dari Santo Paus Yohanes Paulus. Doa untuk perdamaian 2 Februari 1991.
Sahabat-sahabat terkasih, damai sejahtera bagi kalian semua. Ini adalah damai sejahtera Kristus yang bangkit, buah dari pengorbanan kasih-Nya di kayu salib. Karena alasan inilah kita memanjatkan doa kepadanya berikut ini.
Tuhan Yesus, Engkau menaklukkan maut tanpa senjata atau kekerasan. Engkau menghancurkan kekuatan-Nya dengan kekuatan damai sejahtera. Berikanlah kepada kami damai sejahteraMu seperti yang Engkau berikan kepada perempuan-perempuan yang penuh keraguan pada pagi hari Paskah. Seperti yang Engkau berikan kepada para murid yang bersembunyi dalam ketakutan.
Utuslah Roh-Mu nafas yang memberi hidup dan mendamaikan, yang mengubah musuh dan lawan menjadi saudara dan saudari. Ilhamilah kami untuk percaya kepada Maria, ibumu yang berdiri di kaki salibmu dengan hati yang hancur, teguh dalam iman bahwa Engkau akan bangkit kembali.
Semoga kegilaan perang berakhir dan bumi dijaga dan dibudidayakan oleh mereka yang masih tahu bagaimana menumbuhkan, melindungi dan mencintai kehidupan. Dengarkanlah kami ya Tuhan kehidupan. Salam damai sejahtera bagimu semua, bagi bangsa dan negara, bagi dunia kita. Amen.
(*). Penulis adalah Anggota Dewan Kepuasan,bertugas di Dikasteri Tahtah Suci,Vatikan,Roma.
Penulis Media Sejahtera Indonesia
Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik

Saat ini belum ada komentar