Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini dan Feature » Sosok Marsillam Simanjuntak yang Ditakuti Koruptor : Nilai Ujiannya Tertinggi di KPK Tapi Malah Ditolak DPR 

Sosok Marsillam Simanjuntak yang Ditakuti Koruptor : Nilai Ujiannya Tertinggi di KPK Tapi Malah Ditolak DPR 

  • account_circle Media Sejahtera Indonesia
  • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
  • visibility 187
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MENGAPA orang-orang berintegritas tinggi dan bersih justru kerap kali kesulitan mendapatkan ruang di negeri ini? Pertanyaan retoris itu tampaknya paling pas untuk menggambarkan sepak terjang Dr. Marsillam Simanjuntak, S.H.

Bagi generasi muda saat ini, namanya mungkin terdengar asing. Namun di kalangan aktivis reformasi, pakar hukum tata negara, dan para koruptor kelas kakap era 2000-an, nama Marsillam Simanjuntak adalah momok yang menakutkan. Pria kelahiran 23 Februari 1943 ini adalah definisi nyata dari seorang negarawan yang lurus, teguh pendirian, dan “tidak bisa dibeli”.

Namun, ironi terbesar dalam sejarah penegakan hukum kita pernah menimpa dirinya. Sebuah peristiwa yang membongkar bagaimana sistem politik kita sering kali “alergi” terhadap figur yang terlalu bersih.

Juara Satu di Pansel KPK, “Dibuang” di DPR

Kejadian itu berlangsung di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu, Marsillam Simanjuntak memutuskan untuk mengikuti proses seleksi menjadi anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Di bawah penilaian Panitia Seleksi (Pansel) yang diisi oleh tokoh-tokoh independen, kredibel, dan objektif, Marsillam tampil memukau. Berdasarkan seluruh rangkaian ujian materi, rekam jejak, dan integritas, Pansel menempatkan Marsillam Simanjuntak di urutan teratas. Ia adalah lulusan terbaik, calon ketua yang paling ideal di atas kertas.

Namun, kejutan pahit terjadi ketika hasil seleksi tersebut diserahkan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjalani fit and proper test. Di tangan para politisi Senayan, Marsillam justru sengaja disingkirkan dan tidak dipilih.

Banyak pengamat menilai, rekam jejak Marsillam yang terlalu lurus dan tanpa kompromi justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri di ruang politik. Mengapa DPR saat itu takut memilihnya? Jawabannya ada pada masa lalunya yang luar biasa.

Dokter Penerbangan hingga Kamar Tahanan Militer

Marsillam mengawali langkah hidupnya dengan cara yang unik. Ia adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tahun 1971. Sesaat setelah lulus, ia menyerahkan ijazah dokternya kepada sang ibu sembari berkata, “Mama, ini saya persembahkan ijazah dokter saya kepada Mama. Ambil dan simpan sebagai tanda bakti dan hormat saya kepada Mama.”

Ia lalu bekerja sebagai dokter penerbangan di maskapai Garuda Indonesia. Namun, idealisme Marsillam bergejolak melihat ketidakadilan di era Orde Baru. Pada tahun 1974, ia dituduh terlibat dalam Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari). Akibatnya, ia harus mendekam di rumah tahanan militer selama 17 bulan tanpa pernah diadili.

Penderitaannya tak berhenti di sana. Setelah bebas, ia dipaksa pensiun dini dari Garuda karena secara tegas menolak menjadi anggota Korps Pegawai Negeri (Korpri) dan menolak ikut indoktrinasi P-4—dua instrumen yang waktu itu digunakan rezim Soeharto untuk menjinakkan daya kritis masyarakat.

Menguliti Orde Baru Melalui Jalur Hukum 

Kehilangan pekerjaan sebagai dokter tidak membuat nyali Marsillam ciut. Ia justru banting setir kuliah lagi di Fakultas Hukum UI dan lulus pada tahun 1989. Di usia 46 tahun, ia menulis skripsi fenomenal berjudul Unsur Hegelian dalam Pandangan Negara Integralistik.

Buku yang lahir dari skripsi itu menjadi “kitab suci” para aktivis pro-demokrasi karena dengan berani membongkar bagaimana konsep kekeluargaan dan kesatuan Orde Baru sebenarnya diadopsi dari paham totalitarian yang menindas kedaulatan rakyat. Bersama sahabat masa kecilnya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia juga mendirikan Forum Demokrasi (Fordem) untuk melawan otoritarianisme Soeharto.

Benteng Terakhir Jaksa Agung yang Bersih

Ketika Gus Dur naik menjadi Presiden, Marsillam dipanggil ke istana. Ia sempat menjabat sebagai Sekretaris Kabinet dan Menteri Kehakiman. Namun, jabatan paling legendarisnya adalah ketika ia ditunjuk menjadi Jaksa Agung Republik Indonesia pada periode Juli–Agustus 2001.

Ia menggantikan sahabatnya, Baharuddin Lopa, yang wafat secara mendadak di Riyadh, Arab Saudi. Meski hanya menjabat dalam hitungan bulan di akhir pemerintahan Gus Dur, duet Lopa dan Marsillam sempat membuat para koruptor di Indonesia gemetaran karena komitmen mereka yang tak pandang bulu menyapu bersih para perampok uang negara.

Sentilan Menohok untuk Politisi Zaman Now

Marsillam dikenal sebagai tokoh yang sangat jarang tampil di publik. Namun, setiap kali ia memberikan kuliah umum, kata-katanya selalu menjadi tamparan keras bagi realitas politik hari ini.

Dalam salah satu kuliah umumnya, Marsillam sempat menyentil keras tabiat para politisi di parlemen yang selalu menyelesaikan segala sesuatu lewat voting (suara terbanyak).

“Sistem suara terbanyak bukan menjadi keharusan di dalam konstitusi kita. Apa yang ada di dalam konstitusi kita? Pancasila mengatakan: ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan’. Jadi, demokrasi menurut Pancasila bukan demokrasi voting. Bukan demokrasi suara terbanyak, tapi permusyawaratan,” tegas Marsillam.

Kisah Marsillam Simanjuntak adalah pengingat berharga bagi bangsa ini: bahwa di tengah riuhnya panggung politik yang transaksional, Indonesia pernah dan selalu memiliki putra terbaik yang memilih jalan sunyi demi menjaga integritas dan nalar demokrasi tetap hidup. Sayangnya, sistem kita sering kali belum siap menerima orang sejujur beliau. ** [wikipedia].

Penulis

Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kasus Pembunuh Acua, MPSI Menduga 3 Tersangka Diloloskan

    Kasus Pembunuh Acua, MPSI Menduga 3 Tersangka Diloloskan

    • calendar_month Sabtu, 7 Okt 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 183
    • 0Komentar

        Jakarta, MSINews.com – Kasus pembunuhan warga Jakarta Utara (Jakut) Herdi Sibolga atau Acuan. tahun 2018 lalu masih menjadi perbincangan hangat dalam masyarakat. Kasus ini menimbulkan berbagai spekulasi dan pertanyaan terkait penanganannya oleh aparat kepolisian. “Ditkrimum Polda Metro Jaya, didugaan melepaskan tiga tersangka pembunuh almarhum Herdi Sibolga atau Acuan. Hilangnya nyawa acuan akibat ditembak […]

  • Menteri KKP Sebut Laut Kritis Akibat Penangkapan Liar

    Menteri KKP Sebut Laut Kritis Akibat Penangkapan Liar

    • calendar_month Selasa, 15 Jul 2025
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com – Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono, mengungkapkan masalah penangkapan ikan yang tak terukur dan berlebihan di perairan Indonesia, yang secara signifikan mengancam keberlanjutan sumber daya laut. Menurutnya, kondisi ini diperparah dengan keberadaan ribuan rumpon ilegal yang membuat nelayan semakin sulit mendapatkan ikan, Menteri KKP juga menekankan potensi besar budidaya laut sebagai […]

  • Makna ldul Fitri bagi Ahmad Basari adalah Momentum Instropeksi Elite Politik Urai Kekusutan Bernegara Untuk Keselamatan Bangsa

    Makna ldul Fitri bagi Ahmad Basari adalah Momentum Instropeksi Elite Politik Urai Kekusutan Bernegara Untuk Keselamatan Bangsa

    • calendar_month Rabu, 10 Apr 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com-Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah mengajak semua elemen bangsa terutama Presiden Joko Widodo untuk mengambil hikmah semangat halalbilhalal yang pernah dipraktikkan kali pertama oleh Presiden Soekarno di Istana Negara pada 1948. Penyelenggaraan halalbihalal tersebut awalnya dilaksanakan atas saran tokoh Nahdlatul Ulama KH Wahab Hasbullah, dengan tujuan meredam konflik di antara elit politik yang sudah […]

  • Komisi X : Setiap Warga Negara Berhak Memperoleh Akses Pendidikan

    Komisi X : Setiap Warga Negara Berhak Memperoleh Akses Pendidikan

    • calendar_month Kamis, 16 Mei 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 239
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com-Komisi X DPR RI sepakat membentuk Panitia Kerja (Panja) Pembiayaan Pendidikan. Hal tersebut menunjukan bahwa Komisi X DPR RI berkomitmen memastikan setiap warga negara bangsa memperoleh akses pendidikan. Pernyataan ini disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi,dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi X DPR RI dengan Aliansi Badan Eksekutif […]

  • Mensos Saifullah Yusuf  Dampingi Presiden Prabowo Dialog dengan Pengungsi di Padang Pariaman

    Mensos Saifullah Yusuf  Dampingi Presiden Prabowo Dialog dengan Pengungsi di Padang Pariaman

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 165
    • 0Komentar

    MSINEWS.COM – Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mendampingi Presiden Prabowo Subianto meninjau posko penanganan bencana banjir di Perum Kasai Permai, Nagari Kasang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Senin (1/12/2025). Presiden tiba di posko sekitar pukul 15.30 WIB disambut antusias warga yang berada di tenda pengungsian dan langsung menyalami serta berdialog dengan […]

  • Jelang Idul Fitri 1445 H, Komisi VI : Penghitungan Neraca Daging Nasional Harus Tepat

    Jelang Idul Fitri 1445 H, Komisi VI : Penghitungan Neraca Daging Nasional Harus Tepat

    • calendar_month Minggu, 24 Mar 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com-Anggota Komisi VI DPR RI Amin AK menyoroti soal rencana Pemerintah yang terus memberlakukan kebijakan impor guna mencukupi kebutuhan daging dalam negeri. Ia mengatakan, penghitungan neraca daging, khususnya kebutuhan di dalam negeri dan kapasitas produksi di dalam negeri, harus tepat. Adapun, tujuan impor tersebut agar harga daging di pasaran stabil dan terjangkau di masyarakat. Namun, […]

expand_less