Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini dan Feature » Sosok Marsillam Simanjuntak yang Ditakuti Koruptor : Nilai Ujiannya Tertinggi di KPK Tapi Malah Ditolak DPR 

Sosok Marsillam Simanjuntak yang Ditakuti Koruptor : Nilai Ujiannya Tertinggi di KPK Tapi Malah Ditolak DPR 

  • account_circle Media Sejahtera Indonesia
  • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
  • visibility 253
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MENGAPA orang-orang berintegritas tinggi dan bersih justru kerap kali kesulitan mendapatkan ruang di negeri ini? Pertanyaan retoris itu tampaknya paling pas untuk menggambarkan sepak terjang Dr. Marsillam Simanjuntak, S.H.

Bagi generasi muda saat ini, namanya mungkin terdengar asing. Namun di kalangan aktivis reformasi, pakar hukum tata negara, dan para koruptor kelas kakap era 2000-an, nama Marsillam Simanjuntak adalah momok yang menakutkan. Pria kelahiran 23 Februari 1943 ini adalah definisi nyata dari seorang negarawan yang lurus, teguh pendirian, dan “tidak bisa dibeli”.

Namun, ironi terbesar dalam sejarah penegakan hukum kita pernah menimpa dirinya. Sebuah peristiwa yang membongkar bagaimana sistem politik kita sering kali “alergi” terhadap figur yang terlalu bersih.

Juara Satu di Pansel KPK, “Dibuang” di DPR

Kejadian itu berlangsung di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu, Marsillam Simanjuntak memutuskan untuk mengikuti proses seleksi menjadi anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Di bawah penilaian Panitia Seleksi (Pansel) yang diisi oleh tokoh-tokoh independen, kredibel, dan objektif, Marsillam tampil memukau. Berdasarkan seluruh rangkaian ujian materi, rekam jejak, dan integritas, Pansel menempatkan Marsillam Simanjuntak di urutan teratas. Ia adalah lulusan terbaik, calon ketua yang paling ideal di atas kertas.

Namun, kejutan pahit terjadi ketika hasil seleksi tersebut diserahkan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjalani fit and proper test. Di tangan para politisi Senayan, Marsillam justru sengaja disingkirkan dan tidak dipilih.

Banyak pengamat menilai, rekam jejak Marsillam yang terlalu lurus dan tanpa kompromi justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri di ruang politik. Mengapa DPR saat itu takut memilihnya? Jawabannya ada pada masa lalunya yang luar biasa.

Dokter Penerbangan hingga Kamar Tahanan Militer

Marsillam mengawali langkah hidupnya dengan cara yang unik. Ia adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tahun 1971. Sesaat setelah lulus, ia menyerahkan ijazah dokternya kepada sang ibu sembari berkata, “Mama, ini saya persembahkan ijazah dokter saya kepada Mama. Ambil dan simpan sebagai tanda bakti dan hormat saya kepada Mama.”

Ia lalu bekerja sebagai dokter penerbangan di maskapai Garuda Indonesia. Namun, idealisme Marsillam bergejolak melihat ketidakadilan di era Orde Baru. Pada tahun 1974, ia dituduh terlibat dalam Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari). Akibatnya, ia harus mendekam di rumah tahanan militer selama 17 bulan tanpa pernah diadili.

Penderitaannya tak berhenti di sana. Setelah bebas, ia dipaksa pensiun dini dari Garuda karena secara tegas menolak menjadi anggota Korps Pegawai Negeri (Korpri) dan menolak ikut indoktrinasi P-4—dua instrumen yang waktu itu digunakan rezim Soeharto untuk menjinakkan daya kritis masyarakat.

Menguliti Orde Baru Melalui Jalur Hukum 

Kehilangan pekerjaan sebagai dokter tidak membuat nyali Marsillam ciut. Ia justru banting setir kuliah lagi di Fakultas Hukum UI dan lulus pada tahun 1989. Di usia 46 tahun, ia menulis skripsi fenomenal berjudul Unsur Hegelian dalam Pandangan Negara Integralistik.

Buku yang lahir dari skripsi itu menjadi “kitab suci” para aktivis pro-demokrasi karena dengan berani membongkar bagaimana konsep kekeluargaan dan kesatuan Orde Baru sebenarnya diadopsi dari paham totalitarian yang menindas kedaulatan rakyat. Bersama sahabat masa kecilnya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia juga mendirikan Forum Demokrasi (Fordem) untuk melawan otoritarianisme Soeharto.

Benteng Terakhir Jaksa Agung yang Bersih

Ketika Gus Dur naik menjadi Presiden, Marsillam dipanggil ke istana. Ia sempat menjabat sebagai Sekretaris Kabinet dan Menteri Kehakiman. Namun, jabatan paling legendarisnya adalah ketika ia ditunjuk menjadi Jaksa Agung Republik Indonesia pada periode Juli–Agustus 2001.

Ia menggantikan sahabatnya, Baharuddin Lopa, yang wafat secara mendadak di Riyadh, Arab Saudi. Meski hanya menjabat dalam hitungan bulan di akhir pemerintahan Gus Dur, duet Lopa dan Marsillam sempat membuat para koruptor di Indonesia gemetaran karena komitmen mereka yang tak pandang bulu menyapu bersih para perampok uang negara.

Sentilan Menohok untuk Politisi Zaman Now

Marsillam dikenal sebagai tokoh yang sangat jarang tampil di publik. Namun, setiap kali ia memberikan kuliah umum, kata-katanya selalu menjadi tamparan keras bagi realitas politik hari ini.

Dalam salah satu kuliah umumnya, Marsillam sempat menyentil keras tabiat para politisi di parlemen yang selalu menyelesaikan segala sesuatu lewat voting (suara terbanyak).

“Sistem suara terbanyak bukan menjadi keharusan di dalam konstitusi kita. Apa yang ada di dalam konstitusi kita? Pancasila mengatakan: ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan’. Jadi, demokrasi menurut Pancasila bukan demokrasi voting. Bukan demokrasi suara terbanyak, tapi permusyawaratan,” tegas Marsillam.

Kisah Marsillam Simanjuntak adalah pengingat berharga bagi bangsa ini: bahwa di tengah riuhnya panggung politik yang transaksional, Indonesia pernah dan selalu memiliki putra terbaik yang memilih jalan sunyi demi menjaga integritas dan nalar demokrasi tetap hidup. Sayangnya, sistem kita sering kali belum siap menerima orang sejujur beliau. ** [wikipedia].

Penulis

Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mendagri Ajak Kementerian dan Lembaga Lainnya Beri Apresiasi Pemda Berprestasi

    Mendagri Ajak Kementerian dan Lembaga Lainnya Beri Apresiasi Pemda Berprestasi

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 373
    • 0Komentar

    BATAM,MSINEWS.COM- Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mengajak kementerian dan lembaga lainnya untuk turut memberikan apresiasi kepada pemerintah daerah (Pemda) yang berkinerja baik. Menurutnya, ajang penghargaan terhadap Pemda dapat menjadi sarana untuk memberikan motivasi sekaligus mendorong peningkatan kinerja daerah. Hal tersebut disampaikan Mendagri pada gelaran Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026 Batch II Regional Sumatera […]

  • Pj Wali Kota Palembang Dorong Perumda Tirta Musi Distribusikan Air Siap Minum dari Keran

    Pj Wali Kota Palembang Dorong Perumda Tirta Musi Distribusikan Air Siap Minum dari Keran

    • calendar_month Rabu, 3 Jul 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 225
    • 0Komentar

    Palembang, msinews – Pj Walikota Palembang Dr Ucok Abdulrauf Damenta berkunjung ke Perumda Tirta Musi Palembang, Jalan Rambutan Ujung, Kecamatan Ilir Barat II, Palembang, Selasa (02/07). Kunjungan tersebut sebagai silaturami dan perkenalan dengan direksi Perumda Tirta Musi Palembang selaku Kuasa Pemilik Modal (KPM). Dirut Perumda Tirta Musi Palembang Dr Ir Andi Wijaya Adani MSc menyambut […]

  • Ini Alasannya Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua Surati Sekjen PBB

    Ini Alasannya Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua Surati Sekjen PBB

    • calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 83
    • 0Komentar

    JAYAPURA, MSINews.com – | Menyikapi kedatangan Tuan Antonio Gutterez, selaku Sekretaris Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke Indonesia, pihak Sinode Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua melayangkan surat ke Sekjen PBB terkait berbagai gejolak politik dan keamanan yang selama ini terus terjadi di tanah Papua. Berdasarkan release yang diterima media ini pada Selasa, (20/10), Sinode Kingmi […]

  • Komunitas Ini Deklarasikan Dukungan untuk Ridwan Kamil Cawapres 2024

    Komunitas Ini Deklarasikan Dukungan untuk Ridwan Kamil Cawapres 2024

    • calendar_month Sabtu, 16 Sep 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 229
    • 0Komentar

    Jakarta,infomsi.org-Berdasarkan sensus penduduk tahun 2020, generasi muda di Indonesia mencapai 75,49 juta jiwa atau sekitar 27,94 persen dari total populasi. Sementara generasi milenial mencapai 69,38 juta jiwa atau 25,87 persen. Ini mengindikasikan bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah generasi muda. Menyikapi fakta ini, dalam rangka pemilihan umum serentak tahun 2024, generasi muda diharapkan dapat memainkan peran […]

  • Benyamin Inanosa Dukung DOB Jika Jadi Bupati Teluk Bintuni

    Benyamin Inanosa Dukung DOB Jika Jadi Bupati Teluk Bintuni

    • calendar_month Rabu, 12 Jun 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 257
    • 0Komentar

      Penulis/Editor:Fren Lutrun JAKARTA – Ditengah kesibukan para politisi di ibukota negara mencari rekomendasi parpol untuk maju di pilkada 2024 mendatang, banyak isu-isu strategis yang menjadi perbincangan serius, salah satunya tentang konsep atau gagasan membangun wilayah yang akan mereka pimpin. Konsep dan gagasan ini menjadi bahan perbincangan serius di kalangan elit, bukan sekedar mengejar rekomendasi […]

  • Demokrat dan PKS Beri Jawaban, Sikap Golkar Tak Mungkin Dukung Anies

    Demokrat dan PKS Beri Jawaban, Sikap Golkar Tak Mungkin Dukung Anies

    • calendar_month Kamis, 3 Agt 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Jakarta, Infomsi.News–Partai Demokrat menghormati sikap Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto yang memastikan partai berlambang pohon beringin itu tidak bakal mengusung Anies Baswedan sebagai capres di Pilpres 2024. Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat Kamhar Lakumani memahami ada hambatan tertentu bagi Golkar yang kini berada dalam koalisi pemerintah untuk bergabung dengan koalisi Anies. “Kami bisa memahami jika ada […]

expand_less