Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini dan Feature » Sosok Marsillam Simanjuntak yang Ditakuti Koruptor : Nilai Ujiannya Tertinggi di KPK Tapi Malah Ditolak DPR 

Sosok Marsillam Simanjuntak yang Ditakuti Koruptor : Nilai Ujiannya Tertinggi di KPK Tapi Malah Ditolak DPR 

  • account_circle Media Sejahtera Indonesia
  • calendar_month 8 jam yang lalu
  • visibility 25
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MENGAPA orang-orang berintegritas tinggi dan bersih justru kerap kali kesulitan mendapatkan ruang di negeri ini? Pertanyaan retoris itu tampaknya paling pas untuk menggambarkan sepak terjang Dr. Marsillam Simanjuntak, S.H.

Bagi generasi muda saat ini, namanya mungkin terdengar asing. Namun di kalangan aktivis reformasi, pakar hukum tata negara, dan para koruptor kelas kakap era 2000-an, nama Marsillam Simanjuntak adalah momok yang menakutkan. Pria kelahiran 23 Februari 1943 ini adalah definisi nyata dari seorang negarawan yang lurus, teguh pendirian, dan “tidak bisa dibeli”.

Namun, ironi terbesar dalam sejarah penegakan hukum kita pernah menimpa dirinya. Sebuah peristiwa yang membongkar bagaimana sistem politik kita sering kali “alergi” terhadap figur yang terlalu bersih.

Juara Satu di Pansel KPK, “Dibuang” di DPR

Kejadian itu berlangsung di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Saat itu, Marsillam Simanjuntak memutuskan untuk mengikuti proses seleksi menjadi anggota Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Di bawah penilaian Panitia Seleksi (Pansel) yang diisi oleh tokoh-tokoh independen, kredibel, dan objektif, Marsillam tampil memukau. Berdasarkan seluruh rangkaian ujian materi, rekam jejak, dan integritas, Pansel menempatkan Marsillam Simanjuntak di urutan teratas. Ia adalah lulusan terbaik, calon ketua yang paling ideal di atas kertas.

Namun, kejutan pahit terjadi ketika hasil seleksi tersebut diserahkan ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjalani fit and proper test. Di tangan para politisi Senayan, Marsillam justru sengaja disingkirkan dan tidak dipilih.

Banyak pengamat menilai, rekam jejak Marsillam yang terlalu lurus dan tanpa kompromi justru menjadi bumerang bagi dirinya sendiri di ruang politik. Mengapa DPR saat itu takut memilihnya? Jawabannya ada pada masa lalunya yang luar biasa.

Dokter Penerbangan hingga Kamar Tahanan Militer

Marsillam mengawali langkah hidupnya dengan cara yang unik. Ia adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) tahun 1971. Sesaat setelah lulus, ia menyerahkan ijazah dokternya kepada sang ibu sembari berkata, “Mama, ini saya persembahkan ijazah dokter saya kepada Mama. Ambil dan simpan sebagai tanda bakti dan hormat saya kepada Mama.”

Ia lalu bekerja sebagai dokter penerbangan di maskapai Garuda Indonesia. Namun, idealisme Marsillam bergejolak melihat ketidakadilan di era Orde Baru. Pada tahun 1974, ia dituduh terlibat dalam Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari). Akibatnya, ia harus mendekam di rumah tahanan militer selama 17 bulan tanpa pernah diadili.

Penderitaannya tak berhenti di sana. Setelah bebas, ia dipaksa pensiun dini dari Garuda karena secara tegas menolak menjadi anggota Korps Pegawai Negeri (Korpri) dan menolak ikut indoktrinasi P-4—dua instrumen yang waktu itu digunakan rezim Soeharto untuk menjinakkan daya kritis masyarakat.

Menguliti Orde Baru Melalui Jalur Hukum 

Kehilangan pekerjaan sebagai dokter tidak membuat nyali Marsillam ciut. Ia justru banting setir kuliah lagi di Fakultas Hukum UI dan lulus pada tahun 1989. Di usia 46 tahun, ia menulis skripsi fenomenal berjudul Unsur Hegelian dalam Pandangan Negara Integralistik.

Buku yang lahir dari skripsi itu menjadi “kitab suci” para aktivis pro-demokrasi karena dengan berani membongkar bagaimana konsep kekeluargaan dan kesatuan Orde Baru sebenarnya diadopsi dari paham totalitarian yang menindas kedaulatan rakyat. Bersama sahabat masa kecilnya, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ia juga mendirikan Forum Demokrasi (Fordem) untuk melawan otoritarianisme Soeharto.

Benteng Terakhir Jaksa Agung yang Bersih

Ketika Gus Dur naik menjadi Presiden, Marsillam dipanggil ke istana. Ia sempat menjabat sebagai Sekretaris Kabinet dan Menteri Kehakiman. Namun, jabatan paling legendarisnya adalah ketika ia ditunjuk menjadi Jaksa Agung Republik Indonesia pada periode Juli–Agustus 2001.

Ia menggantikan sahabatnya, Baharuddin Lopa, yang wafat secara mendadak di Riyadh, Arab Saudi. Meski hanya menjabat dalam hitungan bulan di akhir pemerintahan Gus Dur, duet Lopa dan Marsillam sempat membuat para koruptor di Indonesia gemetaran karena komitmen mereka yang tak pandang bulu menyapu bersih para perampok uang negara.

Sentilan Menohok untuk Politisi Zaman Now

Marsillam dikenal sebagai tokoh yang sangat jarang tampil di publik. Namun, setiap kali ia memberikan kuliah umum, kata-katanya selalu menjadi tamparan keras bagi realitas politik hari ini.

Dalam salah satu kuliah umumnya, Marsillam sempat menyentil keras tabiat para politisi di parlemen yang selalu menyelesaikan segala sesuatu lewat voting (suara terbanyak).

“Sistem suara terbanyak bukan menjadi keharusan di dalam konstitusi kita. Apa yang ada di dalam konstitusi kita? Pancasila mengatakan: ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan’. Jadi, demokrasi menurut Pancasila bukan demokrasi voting. Bukan demokrasi suara terbanyak, tapi permusyawaratan,” tegas Marsillam.

Kisah Marsillam Simanjuntak adalah pengingat berharga bagi bangsa ini: bahwa di tengah riuhnya panggung politik yang transaksional, Indonesia pernah dan selalu memiliki putra terbaik yang memilih jalan sunyi demi menjaga integritas dan nalar demokrasi tetap hidup. Sayangnya, sistem kita sering kali belum siap menerima orang sejujur beliau. ** [wikipedia].

Penulis

Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dua Tahun Berturut-turut Tak Masuk Daftar Kasus ILC, Menaker: Bukti Dialog Sosial di Indonesia Terwujud

    Dua Tahun Berturut-turut Tak Masuk Daftar Kasus ILC, Menaker: Bukti Dialog Sosial di Indonesia Terwujud

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 23
    • 0Komentar

    JENEVA,MSINEWS.COM— Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyampaikan bahwa Indonesia mencatat capaian positif di forum ketenagakerjaan internasional. Selama dua tahun berturut-turut, Indonesia tidak tercantum dalam daftar kasus, baik long list maupun short list of country cases, pada Konferensi Perburuhan Internasional atau International Labour Conference (ILC). Menaker mengatakan, capaian tersebut menjadi bukti komitmen Indonesia dalam memenuhi standar ketenagakerjaan […]

  • Yuk Simak, 5 Minuman Selain Kopi yang Ampuh Cegah Ngantuk.

    Yuk Simak, 5 Minuman Selain Kopi yang Ampuh Cegah Ngantuk.

    • calendar_month Senin, 14 Agt 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Jakarta, Infomsi–Ngantuk seringkali mengganggu produktivitas kita, terutama saat bekerja atau belajar. Namun, tak perlu khawatir, ada beberapa alternatif minuman selain kopi yang dapat membantu kita tetap segar dan terjaga. Berikut adalah lima minuman yang dapat membantu cegah ngantuk. Yuk, simak selengkapnya di bawah ini! Minuman Selain Kopi Cegah Ngantuk 1. Teh Hijau: Teh hijau mengandung […]

  • Puluhan Tokoh Pers Nasional Siap Hadiri HPN Riau 2025

    Puluhan Tokoh Pers Nasional Siap Hadiri HPN Riau 2025

    • calendar_month Selasa, 4 Feb 2025
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Jakarta, msinews.com– Sejumlah tokoh pers nasional menyatakan kepastiannya untuk hadir langsung menyukseskan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2025 yang akan digelar di Pekanbaru, Provinsi Riau 6-10 Februari 2025. Adapun tokoh-tokoh pers yang sudah menyatakan diri untuk hadir, seperti Tribuana Said, Timbo Siahaan, Ilham Bintang, Banjar Chearudin, Marah Sakti Siregar, Sasongko Tedjo, Akhmad Munir, Uni Lubis, […]

  • Ketua MAKI Soroti Absennya Ketua KPK

    Ketua MAKI Soroti Absennya Firli Bahuri ‘Banyak Mengada-ngada’

    • calendar_month Rabu, 8 Nov 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Jakarta, MSINews.com – Ketua MAKI Bonyamin menyoroti absenya ketua KPK dari Panggilan Polda Metro Jaya untuk mengikuti agenda Hakordia di Kota Aceh. Bonyamin menduga alasan Firli Bahuri dinas ke luar daerah,  justru yang mengada-ada. Lembaga Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI), Bonyamin Saiman, menilai kasus dugaan pemerasan ketua KPK kepada mantan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) […]

  • DPR RI Ingatkan, Barang Kiriman PMI dari Laur Negeri Bukan untuk Komersial

    DPR RI Ingatkan, Barang Kiriman PMI dari Laur Negeri Bukan untuk Komersial

    • calendar_month Selasa, 9 Apr 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com-Penerapan aturan impor yang berdampak bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) mendapat sorotan dari Anggota Komisi IX DPR RI,Edy Wuryanto. Ia menilai, banyaknya barang bawaan milik PMI yang pulang kampung adalah hal yang wajar. Edy meyakini, barang kiriman atau bawaan PMI bukan bertujuan komersil, melainkan kebutuhan keluarga mereka di kampung halaman. “Mereka tidak sering pulang. Ada yang […]

  • PKS Hormati Deklarasi Anies-Imin

    PKS Hormati Deklarasi Anies-Imin

    • calendar_month Sabtu, 2 Sep 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Jakarta– Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menghormati keputusan Partai Nasdem dan PKB mendeklarasikan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar sebagai Capres dan Cawapres dalam Pemilu 2024. Hal itu disampaikan Presiden PKS Ahmad Syaikhu dalam konferensi pers menyikapi situasi terkini di Koalisi Perubahan, bertempat di Kantor DPTP PKS di Jakarta, Sabtu (2/9/2023). “Kami menghormati keputusan Partai Nasdem dan PKB […]

expand_less