Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Budaya » Pembangunan Berwawasan Sriwijaya 

Pembangunan Berwawasan Sriwijaya 

  • account_circle Media Sejahtera Indonesia
  • calendar_month Sabtu, 21 Sep 2024
  • visibility 104
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Syamsul Noor

URAIAN dan ulasan dalam tulisan ini bercorak retrospektif (flashback; ke belakang) sekaligus introspektif (futuristik; ke depan). Tulisan ini bertolak dari fakta arkeologis dan fakta ekologis, yang dapat dibuktikan dengan artefaktual baik berupa prasasti maupun manuskrip kuno.

Ada beberapa batu prasasti yang secara tekstual berhubungan dengan angle (sudut pandang dari tematik) tulisan ini. Prasasti dimaksud, antara lain Prasasti Talang Tuwo (684 Masehi); Prasasti Kedukan Bukit (682 Masehi); Prasasti Kambang Unglen 1 (tidak berangka tahun); dan Prasasti Telaga Batu (tidak berangka tahun tapi para arkeolog memperkirakan berasal dari abad ke-7 atau abad ke-8 Masehi).

Prasasti Talang Tuwo

Prasasti Talang Tuwo ditemukan oleh Louis Constant Westenenk (Residen Palembang) pada 17 November 1920 di kaki Bukit Siguntang dan dikenal sebagai salah satu peninggalan dari Emperium/Kadatuan Sriwijaya. Keadaan fisik batu masih baik dengan bidang datar bertulisan berukuran 50 cm × 80 cm. Prasasti ini berangka tahun 606 Saka (23 Maret 684 Masehi), ditulis dalam Aksara Pallava, bahasa Melayu Kuno, dan terdiri dari 14 baris.

Van Ronkel dan Bosch merupakan orientalis pertama yang membaca dan mengalihaksarakan prasasti tersebut. Lalu bacaan dia dimuat dalam Acta Orientalia. Sejak 1920 prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta dengan nomor inventaris D.145.

Batu Prasasti Talang Tuwo kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia.

Hermeneutika (wilayah pemaknaan/penafsiran) tekstual dari suatu prasasti tidak dapat dipisahkan dari aspek demografi, ekologi, sosial, dan.
bahkan kultur masyarakat dari in situ (area titik nol) prasasti itu ditemukan.

In situ (area titik nol) dari empat prasasti tersebut adalah kawasan Palembang, masyarakat pemukimnya sebagian bermata pencaharian sebagai pedagang dan sebagian lagi bertani/berladang.

Melalui pendekatan jurnalistik 5W1H (who; what; when; where; why; dan how) dapat dianalisis cognitive content (kandungan isi pikiran) dari teks masing-masing prasasti.

~ Who: Sri Jayanasa
~ What: masalah ekologi/demografi.
~ When: Tahun 684 M (abad ke-7 M).
~ Where: Kota Palembang.
~ Why: ? (kajian hermeneutik).
~ How: ? (kajian ipoleksosbud)

Sri Jayanasa dalam Talang Tuwo (684 M) dan Dapunta Hyang dalam Kedukan Bukit (682 M) adalah tokoh yang sama. Secara linier (berbanding lurus), tokoh Dapunta Sailendra yang dikenal di Jawa (silsilahnya tersebut dalam Prasasti Sojomerto; ditemukan di Batang, Jawa Tengah) adalah juga tokoh yang sama dengan Dapunta Hyan (Kedukan Bukit).

Sailendra adalah nama asli dan setelah menaiki tahta kerajaan Sriwijaya sebagai Maharaja Sriwijaya, Sailendra memakai gelar Dapunta Hyan Sri Jayanasa. Sailendra dalam Sojomerto memahatkan siapa dirinya dalam bahasa Melayu Kuno, menggunakan aksara Kawi (turunan aksara Pallawa).

Dapunta Sailendra (dalam Sojomerto) menyebut bapa-nda (ayahnya) bernama Santanu dan mama-nda (ibunya) bernama Bhadrawati serta bini-nda (isterinya) bernama Sampula.

Santanu adalah seorang resi pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Indraprahasta (sekarang termasuk kawasan Cirebon). Santanu berdasarkan Pustaka Rajya Rajya Nusantara disebut mempersunting puteri dari raja terakhir Kerajaan Salakanagara, bernama Putri Bhadrawati. Sang anak Sailendra sebelum mendirikan Sriwijaya menikah puteri sulung dari Ratu Maharani Shima (Kalingga), bernama Sampula.

Dengan ditemukannya prasasti Sojomerto telah diketahui asal keluarga Sailendra dengan pendirinya Dapunta Selendra. Menurut Boechari, prasasti Sojomerto berasal dari sekitar pertengahan abad ke-7 Masehi.

Nama Sri Jayanasa dalam teks Prasasti Talang Tuwo merupakan dua kata pada akhir dari nama gelar. Sedangkan dua kata pada awal dari nama gelar, yaitu Dapunta Hyan terpahat pada Prasasti Kedukan Bukit. Dari dua prasasti itu (Talang Tuwo dan Kedukan Bukit) para arkeolog mendapatkan empat kata nama gelar, yakni Dapunta Hyan Sri Jayanasa.

Ilustrasi dari Delapan Dharma ajaran Dharmakirti. (Foto: Dok)

Sriwijaya Berdiri

Adik dari Sampula, yaitu Sanaha mewarisi tahta Kalingga dan dipersunting oleh Raja Bratasenawa (dari Kerajaan Galuh). Putera Mahkota dari hasil pernikahan Bratasenawa dan Sanaha, bernama Sanjaya (kerap pula disebut Rakai Dyah Mataram).

Secara intertekstual, dapat dikatakan Sanjaya adalah keponakan ipar dari Dapunta Sailendra. Setelah menaiki tahta sebagai pewaris sah dari Kalingga, Sanjaya memindahkan pusat pemerintahan dan mengubah nama kerajaan menjadi Medang Kamulan.

Sanjaya juga mempererat tali kekeluargaan dengan Dapunta Sailendra, yaitu dengan mempersunting puteri dari Raja Dewasingha (penguasa Kanjuruhan: Kalingga bagian Selatan). Dewasingha diprediksi para ahli sejarah putera dari pernikahan antara Sampula dan Dapunta Sailendra (Prasasti Kanjuruhan, abad ke-8 Masehi).

Di belakang hari putera dari pernikahan antara Raja Sanjaya dan Dewi Sudiwara, bernama Rakai Panamkaran. Menurut Poerbatjaraka, Sanjaya dan keturunan-keturunannya adalah dari keluarga Sailendra, asli Nusantara penganut agama Siwa. Tetapi sejak Paņamkaran berpindah agama menjadi penganut Buddha Mahayana, sebagian raja di Medang menjadi penganut agama Buddha Mahayana.

Pada 09 Mei 669 Masehi, Sailendra (Dapunta Hyan) juga mempersunting dan memboyong puteri ke-2 Raja Linggawarman VIII (raja terakhir Kerajaan Tarumanegara), bernama Dewi Sobakancana.

Pada saat itu pula diselenggarakan penobatan Dapunta Hyan sebagai Raja Sriwijaya bergelar Dapunta Hyan Sri Jayanasa. Bersamaan dengan itu Puteri ke-1 dari Raja Linggawarman VIII, bernama Dewi Manasih dipersunting oleh Raja Tarusbawa (penguasa dari Kerajaan Sunda).

Ikatan kekeluargaan antara Raja Sanjaya dan Dapunta Hyan makin kuat, dengan pernikahan antara Raja Sanjaya dengan puteri dari Raja Tarusbawa. Dari pernikahan itu lahirlah seorang putera mahkota, bernama Rakyan Panaraban.

Analisis itu didasarkan pada isi manuskrip Carita Parahiyangan yang menyebutkan, Rakai Sanjaya menyuruh anak keturunannya (Rakai Panamkaran; Rakai Panaraban atau Rakai Tamperan) untuk berpindah agama karena agama yang dianutnya (aliran Saiwa) ditakuti oleh semua orang.

Bukti Rakai Panamkaran berpindah agama dari aliran Siwa menjadi Buddha Mahayana juga sesuai dengan teks Prasasti Raja Sankhara (koleksi Museum Adam Malik yang kini hilang).

Teks Prasasti Canggal (732 Masehi) menyebutkan, Sanjaya mendirikan sebuah lingga di bukit Sthiranga untuk tujuan dan keselamatan rakyatnya. Disebutkan pula bahwa Sañjaya memerintah Jawa menggantikan Sanna; Raja Sanna mempunyai saudara perempuan bernama Sanaha yang kemudian dinikahi oleh Bratasenawa (Raja Galuh) dan melahirkan Sanjaya.

Dari trah geneologis tersebut dapat disimpulkan latar belakang dari Rakai Panamkaran diberi gelar Sailendravamsa Tilaka (Permata Keluarga Sailendra) pada Prasasti Kalasan (778 M).

Dari Prasasti Sojomerto dan Prasasti Canggal telah diketahui nama orang yang bertalian dengan Medang (Mataram), yaitu Dapunta Sailendra, Santanu, Bhadrawati, Sampula, Sanna, dan Sanjaya. Raja Sanjaya mulai berkuasa di Medang pada 717 Masehi.

Relief di Candi Borobudur menggambarkan seekor gajah kerajaan dikawal oleh tentara, pada zaman Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Medang.(ist)

Esensi Saluran Air dan Sungai

Berikut isi teks Prasasti Talang Tuwo (684 M) yang menyoal esensi Saluran Air dan Sungai , “… dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan saluran-saluran air dan sungai-sungainya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk.

Secara implisit Maharaja Sriwijaya Dapunta Hyan Sri Jayanasa menyatakan, Saluran-saluran Air dan Sungai-sungai dan semua yang ia kerjakan (yang secara demografis masih mengalir di seluruh kawasan Seberang hilir Kota Palembang) semoga dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk.

Melalui ilmu komunikasi modern dan semiotika (ilmu tentang penandaan), teks prasasti itu memiliki fakta kontekstual dengan situasi dan kondisi Kota Palembang saat ini.

Terdapat jejak lanskap hasil buatan/proses alamiah tanpa campur tangan manusia, yang dalam Semiotika disebut Indeks (Index). Ada pula jejak lanskap hasil proses kreativitas budaya manusia, disebut Ikon (Icon).

Sangat logis apabila permasalahan yang dihadapi kota Palembang hari ini memiliki hubungan linear dengan peristiwa/kejadian pada ratusan atau ribuan tahun lalu.

Berapa usia Kota Palembang pada 2024? Apa yang menjadi dasar kebijakan politis (Peraturan Daerah; Perda) sehingga terjadi penetapan titik 0 sehingga menjadi sekian ribu tahun?

Andai jawabannya berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit (682 M), silakan baca ulang teks prasasti itu dan coba tafsirkan secara semiotika dan intertekstual.

Penetapan 682 Masehi sebagai patokan tidaklah salah tetapi penetapan itu keliru karena mengabaikan fakta yang jauh lebih rasional. Dalam Kroniknya I’tsing menulis, pada 671 M ia sudah mengunjungi Sriwijaya. Jadi tegasnya, pada 682 M itu Sriwijaya sudah ada atau sudah eksis. Artinya penetapan 682 M menjadi batal demi hukum dan demi orisinalitas sejarah.

Apabila disebutkan Kedatuan Sriwijaya berdiri pada 09 Mei 669 Masehi, tentu mesti ada sumber arkeologisnya walaupun tidak sekuat prasasti. Sumbernya adalah Carita Paraton, Carita Parahiyangan, dan Pustaka Rajya Rajya I Bumi Nusantara. Prasasti dan manuskrip dihubungkan secara linier berdasarkan urutan waktu dan sebagai diskursus intertekstual maka dijumpai penanggalan 09 Mei 669 Masehi.

Semiotis (penandaan) jauh lebih relevan dan linear dengan peristiwa sebelumnya, yang menyertainya, dan terjadi selanjutnya.

Index dan Ikon berkaitan dengan saluran-saluran air dan sungai-sungai hingga saat ini, kendati banyak pula situs/area yang berubah dan hilang, tetapi masih dapat disaksikan di Kota Palembang.

Begitu pula topografi vijayanagara (sebutan kotanegara atau ibukota pada zaman Sriwijaya) masih dapat dibuat sketsanya, prediksi luas wilayahnya, batas-batasnya, dan sebagainya berdasarkan indeks dan ikon titik nol temuan artefak/situs arkeologisnya.

Secara ekologis, geologis, dan demografis Kota Palembang dialiri Fo-shi (Sungai Musi) nyaris tepat di tengah (center; 0,0 Km). Aliran Sungai Musi membelah kota menjadi dua bagian, hulu (ulu) dan hilir (Ilir).

Dalam kosmologi Budha, mandala ulu dan mandala Ilir diumpamakan dengan dua energi/kekuatan yang ambivalen (saling berlawanan), yaitu panas (api) dan dingin (air).

Mandala api dan air tersebut agar terbina suatu homeostatis (daur keseimbangan) mesti dikelola sesuai dengan zat dan sifat agar tercipta dharma dan karsa yang selaras dengan kehendak alam.

Sang Acharya (Mahaguru) Dharmakirti (di Dalai Lama dikenal dengan nama Dharmaraksita) lewat kitab yang ia susun, berjudul The Dharma Wheels (Lingkaran Darma) mengajarkan Delapan Darma, yakni menyerupai delapan arah mata angin.

Ajaran Delapan Darma tersebut tidak bertentangan dengan ajaran apa pun dan secara singkat dapat dijabarkan, sebagai berikut:
(1) Pangetahuan Benar (samma-ditthi)
(2) Kehendak/Hasrat Benar (samma-sankappa)
(3) Perkataan Benar (samma-vaca)
(4) Perilaku Benar (samma-kammanta)
(5) Rezeki Benar (samma-ajiva)
(6) Ikhtiar Benar (samma-vayama)
(7) Pemikiran Benar (samma-sati)
(8) Kontemplasi Benar (samma-samadhi)

Lebih ke belakang lagi, yakni dalam abad ke-8 di Sriwijaya juga hidup Acharya (Mahaguru) Sakyakirti. Beliau termasuk salah seorang di antara tujuh pemikir Budha paling berpengaruh di dunia versi Universitas Nalanda, India.

Atas titah Maharaja Dapunta Hyan Sri Jayanasa beliau ditunjuk sebagai penyusun dan penulis teks prasasti, di antaranya Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Prasasti Talang Tuwo (684 M), Prasasti Boom Baru (tidak berangka tahun), Prasasti Telaga Batu I dan II, Prasasti Kambang Unglen 1, Lembaran-lembaran Siddhayatra, dan lain-lain.

Semua prasasti dan lembaran itu Sriwijayaditulis dengan gaya penulisan aksara, bahasa, pembuka (prolog) teks, dan penutup (epilog) teks, dan penyematan simbol pada awal/akhir teks yang sama.

Dari teks Prasasti Kedukan Bukit dijumpai kalimat berbunyi “Crivijaya Jayasiddhayatra Subhiksa” (Sriwijaya berhasil dalam Perjalanan Suci secara gemilang).

Ungkapan bertendensi nyaris serupa dijumpai dalam teks Prasasti Kambang Unglen 1, berbunyi “Crivijaya Jayasiddhayatra sarwwa sattwa” (Sriwijaya berhasil dalam Perjalanan Suci buat semua makhluk).

Hermeneutika (ruang lingkup pemaknaan) dari dua ungkapan itu secara implisit menunjuk pada esensi perjalanan hidup manusia pada dasarnya merupakan suatu perjalanan suci mewujudkan hasil guna buat semua makhluk, baik yang hidup di darat, di air, maupun di udara (terbang). Hasil guna dimaksud berupa kesehatan dan kesejahteraan.

Semua nilai berkategori universal itu merupakan kecerdasan lokal Sriwijaya. Penulis memandang diskursus atau khasanah nilai-nilai luhur itu sebagai suatu warisan faktual dan aktual berupa kekayaan literasi sekaligus terminologi aktual dari pembangunan berwawasan Sriwijaya.

Mengenai dua bidang urgen yaitu (a) Pusat Pendidikan dan (b) Pusat Pelatihan Beladiri dan Militer, di era Sriwijaya akan penulis ulas dalam tulisan dengan judul tersendiri, sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari tema Pembangunan Berwawasan Sriwijaya. *

 

Penulis

Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polres Metro Jaktim

    Polres Metro Jaktim Selidiki Acara ‘Metamorfoshow Diduga Eks HTI

    • calendar_month Jumat, 23 Feb 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Jakarta, MSINews.com – Polres Metro Jakarta Timur tengah melakukan penyelidikan terhadap manajemen Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dan penyelenggara acara bertajuk “Metamorfoshow: It’s Time to be One Ummah”. Acara tersebut diduga digelar oleh eks organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Teater Tanah Airku, TMII. Kombes Pol Nicolas Ary Lilipaly, Kapolres Metro Jakarta Timur, menyatakan bahwa […]

  • Delapan Parpol

    Golkar Kuasai 17,57 Persen Kursi DPR, PDIP dan Demokrat Alami Penurunan

    • calendar_month Senin, 25 Mar 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Jakarta, MSINews.com – Hasil perolehan suara Pemilu 2024 mengindikasikan kemungkinan pergeseran kekuatan di DPR, dengan beberapa partai politik mengalami kenaikan sementara yang lain merasakan penurunan kursi. Menurut perhitungan menggunakan metode Sainte Lague, Partai Golkar muncul sebagai salah satu pemenang, dengan proyeksi 102 kursi, naik dari 85 kursi pada Pemilu sebelumnya. Hal ini menandakan potensi peningkatan […]

  • Baleg DPR, Soal Gubernur Dipilih Presiden Teryata Ini Pengusulnya :

    Baleg DPR, Soal Gubernur Dipilih Presiden Teryata Ini Pengusulnya :

    • calendar_month Minggu, 10 Des 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Jakarta, MSINews – Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Heri Gunawan, mengungkapkan ketentuan gubernur Jakarta diangkat langsung oleh presiden, sebagaimana tercantum dalam Pasal 10 RUU Daerah Khusus Jakarta (DKJ), merupakan usulan dari Badan Musyawarah Suku Betawi (Bamus Betawi). Menurut Heri Gunawan, usulan tersebut disampaikan oleh Bamus Betawi pada Rapat Dengar Pendapat […]

  • KLHK Klaim Polusi Udara di Jakarta Terburuk di Dunia, Begini Penjabarannya

    KLHK Klaim Polusi Udara di Jakarta Terburuk di Dunia, Begini Penjabarannya

    • calendar_month Minggu, 13 Agt 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Jakarta, Infomsi–Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengklaim polusi udara di Jakarta merupakan yang terburuk di dunia. Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK Sigit Reliantoro mengatakan perlu ada perbandingan data untuk melihat indeks kualitas udara di Ibu Kota. “Kalau diframing bahwa kita itu terkotor, tercemar di seluruh dunia nomor satu, itu yang perlu […]

  • Teroris Bekasi Sudah 13 Tahun Terafiliasi, Masuk KAI Setelah Berbaiat ke ISIS

    Teroris Bekasi Sudah 13 Tahun Terafiliasi, Masuk KAI Setelah Berbaiat ke ISIS

    • calendar_month Selasa, 15 Agt 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Jakarta, Infomsi.News–Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkapkan, tersangka teroris berinisial DE yang ditangkap di Bekasi sudah terafiliasi kelompok terorisme selama 13 tahun. Dia lebih dahulu menjadi pengikut Mujahidin Indonesia Barat (MIB) dan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) sebelum menjadi pegawai BUMN di PT Kereta Api Indonesia (KAI). Juru Bicara Densus 88 AT […]

  • Konsitusi Menegaskan Indonesia Bersama dengan Perjuangan Bangsa Palestina

    Konsitusi Menegaskan Indonesia Bersama dengan Perjuangan Bangsa Palestina

    • calendar_month Rabu, 3 Apr 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com– MPR sebagai rumah rakyat dan rumah konstitusi memastikan bahwa konstitusi Indonesia tetap bersama perjuangan bangsa Palestina dan menghadirkan perdamaian dunia. Demikian kata Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid. “Kami di MPR akan terus memastikan bahwa konstitusi kita tetap menegaskan bahwa Indonesia bersama perjuangan bangsa Palestina dan Indonesia aktif menghadirkan perdamaian dunia,” kata HNW,demikian […]

expand_less