Kejadian pada Siswa Sekolah Rakyat Pati, Gus Ipul Tegaskan Rehabilitasi Prioritas Utama
- account_circle Media Sejahtera Indonesia
- calendar_month 42 menit yang lalu
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA- Menteri Sosial (Mensos)!aifullah Yusuf sapaan akrabnya Gus Ipul menegaskan Kementerian Sosial (Kemensos) menangani peristiwa yang menimpa pada siswa Sekolah Rakyat di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Kemensos sudah melakukan sesuai prosedur yang berlaku pada siswa Sekolah Rakyat dengan mengutamakan rehabilitasi dan pendampingan psikososial.
Kemensos juga menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperketat pengawasan serta memperkuat langkah mitigasi dan pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan berasrama Sekolah Rakyat.
Gus Ipul menyampaikan hal tersebut seusai menghadiri kegiatan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kota Semarang, Jawa Tengah.
“Tentu kita akan coba mencarikan solusi terbaik. Kita tidak akan juga membiarkan, tapi kita akan carikan solusi terbaik. Dan ini menjadi bahan evaluasi buat kami juga,” kata Gus Ipul, dikutip Senin 12 Oktober 2026.
Menurut Gus Ipul, pihak sekolah telah menjalin komunikasi dengan orang tua siswa yang terlibat untuk menentukan langkah penyelesaian sesuai kepentingan anak.
Penanganan tersebut tidak hanya diarahkan pada penyelesaian, tetapi juga mencakup pemulihan kondisi psikososial agar siswa dapat kembali menjalani kegiatan belajar secara optimal.
“Kalau mereka ada apa-apa, kita akan lakukan rehabilitasi, kita akan lakukan pendekatan psikososial agar semuanya bisa nanti mengikuti pembelajaran lagi di Sekolah Rakyat,” ujarnya.
Gus Ipul menjelaskan bahwa perbedaan latar belakang keluarga, kebiasaan, dan karakter siswa dapat menimbulkan tantangan selama proses adaptasi dengan sistem pendidikan berasrama.
Kondisi tersebut menuntut guru dan tenaga kependidikan meningkatkan pendampingan sekaligus mengawasi interaksi antarsiswa untuk mengantisipasi munculnya konflik.
“Itu mungkin ada kesalahpahaman, atau mungkin ada hal-hal yang tidak terpantau oleh tenaga pendidikan di sana, sudah dilakukan komunikasi dengan orang tuanya,” ujarnya.
Selain memperkuat pendampingan, Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat harus terbebas dari tiga pelanggaran serius dalam dunia pendidikan, yakni perundungan atau bullying, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi.
Larangan tersebut berlaku bagi seluruh warga sekolah, termasuk peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan.
Ia menyatakan bahwa pemerintah akan menerapkan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku apabila menemukan pelanggaran yang dilakukan guru atau tenaga kependidikan.
Sementara itu, penanganan terhadap siswa akan mengutamakan pendekatan rehabilitatif dengan mempertimbangkan usia, kondisi, dan latar belakang peserta didik.
“Ini kan masih di bawah umur, ada prosedurnya. Ya mungkin rehabilitasi, mungkin akan ada rehabilitasi. Tentu ini akan kita tangani dengan prosedur yang ada,” jelasnya.
Gus Ipul juga memastikan Kemensos akan terus mengevaluasi sistem pengawasan dan pengasuhan di Sekolah Rakyat.
Menurutnya, penguatan pengendalian dan pencegahan diperlukan untuk mengurangi risiko terulangnya peristiwa yang dapat mengganggu keamanan serta kenyamanan siswa selama menjalani pendidikan.
“Kita akan coba mitigasi, kita akan terus perkuat pengendalian, kita akan berkuat pencegahan supaya hal-hal itu tidak terjadi,” pungkasnya.
Melalui evaluasi tersebut, Kemensos berupaya memperkuat sistem perlindungan anak sekaligus meningkatkan kualitas pendampingan di lingkungan Sekolah Rakyat.
Langkah itu diarahkan untuk memastikan siswa memperoleh kesempatan belajar dalam lingkungan yang aman, mendukung perkembangan psikososial, dan mendorong pembentukan karakter.**
Penulis Media Sejahtera Indonesia
Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik



Saat ini belum ada komentar