Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional » Dari Operator Telepon ke Istana, Merawat Integritas Selama 25 Tahun

Dari Operator Telepon ke Istana, Merawat Integritas Selama 25 Tahun

  • account_circle Media Sejahtera Indonesia
  • calendar_month Sabtu, 31 Okt 2026
  • visibility 46
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, MSINEWS.COM-Tidak semua perjalanan menuju ruang redaksi dimulai dari meja wartawan. Stanislaus Jumar Sudiyana mengawali kariernya di Radio Sonora sebagai operator telepon. Dua puluh lima tahun kemudian, perjalanan itu membawanya menjadi wartawan yang berkesempatan meliput kehidupan di lingkar Istana Kepresidenan.

Perjalanan panjang tersebut dituliskan Jumar dalam buku berjudul Operator Telepon Jadi Wartawan Kepresidenan: 25 Tahun Berkarya di Radio Sonora. Buku yang diterbitkan Jembatan Literasi Nusantara itu dibedah dalam sebuah diskusi di Markas Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya, Jakarta, Jumat (30/10/2026) sore.

Buku yang disunting Algooth Putranto, doktor Ilmu Komunikasi, ini bukan sekadar catatan perjalanan karier. Di dalamnya tersimpan cerita tentang ketekunan, kesempatan, pendidikan, dan pilihan untuk tetap menjaga integritas di tengah dinamika profesi jurnalistik.

Ketua PWI Jaya Kesit Budi Handoyo membuka kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban tersebut. Hadir Direktur Radio Sonora Viliny Lesmana, wartawan senior Mayong Suryo Laksono, Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Jaya Bagus Sudarmanto, serta sejumlah sahabat dari kalangan jurnalistik dan akademisi, di antaranya Tb. Adhi dan Arman Suparman.

Kesit mengapresiasi perjalanan Jumar yang dinilainya mencerminkan dedikasi seorang wartawan. Menurut dia, Jumar merupakan sosok yang tidak memilih medan liputan dan tidak menawar waktu ketika menjalankan tugas jurnalistik.

Sikap tersebut menunjukkan kesiapan dan tanggung jawab seorang jurnalis dalam menjalankan profesinya. Sebab, pekerjaan wartawan tidak selalu berlangsung dalam situasi yang nyaman. Ada tuntutan untuk hadir, bekerja, dan menyampaikan informasi kepada publik dalam berbagai keadaan.

Apresiasi serupa disampaikan Direktur Radio Sonora Viliny Lesmana. Ia mengucapkan selamat atas terbitnya buku tersebut dan menyebut Jumar sebagai sosok yang memiliki “paket lengkap seorang jurnalis” serta dapat diandalkan.

Bagi lingkungan kerja yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup Jumar selama seperempat abad, buku ini menjadi rekaman tentang proses panjang seseorang dalam bertumbuh bersama institusi media.

Wartawan senior Mayong Suryo Laksono melihat penerbitan buku sebagai salah satu pencapaian penting dalam perjalanan seorang wartawan. Mayong mengenal Jumar ketika masih mengabdi di majalah Intisari, bagian dari Kompas Gramedia.

“Puncak karya seorang wartawan atau jurnalis adalah ketika mampu melahirkan karya berupa buku. Apa yang dilakukan Jumar merupakan pencapaian yang patut diapresiasi karena pengalaman panjang seorang wartawan akhirnya terdokumentasi menjadi karya yang bisa dibaca dan diwariskan kepada orang lain,” ujar Mayong, yang pernah menjadi anggota Komisi Penyiaran Indonesia dan Dewan Pengawas Antara.

Bagi Mayong, pengalaman jurnalistik tidak semestinya berhenti sebagai ingatan pribadi. Ketika dituliskan, pengalaman itu dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi orang lain, terutama generasi wartawan berikutnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Jaya Bagus Sudarmanto menyoroti pentingnya integritas dan independensi sebagai fondasi profesi wartawan.

“Perjalanan panjang seorang wartawan bukan hanya tentang pengalaman, posisi, atau kesempatan meliput tokoh penting, melainkan juga tentang kemampuan mempertahankan prinsip dan independensi di tengah berbagai tantangan profesi,” ujar Bagus, yang juga mengajar di sejumlah perguruan tinggi.

Menjaga prinsip di tengah perjalanan

Diskusi buku tersebut mengangkat enam pokok pemikiran yang menggambarkan perjalanan Jumar, sekaligus menghadirkan refleksi mengenai dunia jurnalistik.

Pertama, perjalanan dari operator telepon menjadi wartawan kepresidenan. Perubahan peran itu tidak berlangsung dalam sekejap. Ada proses, ketekunan, dan kesempatan yang dijalani tanpa jalan pintas. Pada halaman 115, Jumar menuliskan, “Semua itu saya jalani tanpa jalan pintas.”

Kedua, integritas dan independensi. Salah satu pengalaman yang diangkat adalah ketika Jumar menolak pemberian amplop dari seorang narasumber polisi. Alasannya sederhana, tetapi mencerminkan prinsip yang dipegangnya: “Biar saya tetap bisa bicara leluasa di udara” (hlm. 12).

Pengalaman itu memperlihatkan bahwa independensi wartawan tidak hanya diuji ketika berhadapan dengan kekuasaan besar. Godaan dalam bentuk pemberian atau fasilitas kecil pun dapat memengaruhi kebebasan seorang jurnalis dalam menjalankan tugasnya.

Ketiga, pengalaman meliput Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada periode 2012–2014, sebagaimana diceritakan dalam bab tentang Liputan Istana Kepresidenan. Berada dekat dengan pusat kekuasaan merupakan kesempatan sekaligus tanggung jawab. Kedekatan tersebut tidak boleh menghilangkan jarak kritis yang harus dijaga seorang wartawan.

Keempat, pendidikan dan kemauan untuk terus belajar. Pesan ayah Jumar yang dikutip pada halaman 113 menjadi salah satu bagian penting dalam buku tersebut: “Kamu boleh miskin harta, tapi tidak boleh miskin ilmu.”

Kalimat itu menggambarkan bahwa pendidikan bukan sekadar jalan untuk memperoleh pekerjaan atau meningkatkan kedudukan. Pengetahuan merupakan bekal untuk menghadapi perubahan dan menjaga kualitas diri sepanjang kehidupan.

Kelima, transformasi radio di tengah perkembangan teknologi digital. Jumar menuliskan sebuah refleksi yang relevan dengan perubahan industri media: “Radio tidak mati. Ia hanya berubah bentuk, dan dalam perubahan itu, radio menemukan relevansi baru” (hlm. 120).

Radio menghadapi perubahan cara masyarakat memperoleh informasi. Namun, perkembangan teknologi tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan publik terhadap informasi yang kredibel. Tantangannya adalah beradaptasi tanpa kehilangan karakter, kedekatan dengan pendengar, dan kepercayaan publik.

Keenam, makna pengabdian dan warisan profesi. Pada halaman 13, Jumar menuliskan, “… kalau kita jujur dan konsisten, perlahan kita akan dihormati dan diingat.”

Pesan tersebut menjadi semacam benang merah perjalanan yang dituturkan dalam buku ini. Penghargaan terhadap seorang wartawan tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan, popularitas, atau akses kepada tokoh penting, tetapi juga oleh konsistensi dalam menjaga prinsip.

Pengalaman yang tidak berhenti sebagai kenangan

Suasana diskusi berkembang menjadi ruang berbagi pengalaman dan gagasan. Para peserta tidak hanya membicarakan perjalanan karier Jumar, tetapi juga pentingnya mendokumentasikan pengalaman jurnalistik dalam bentuk tulisan.

Wartawan, dalam kesehariannya, berhadapan dengan beragam peristiwa dan manusia. Mereka bertemu narasumber dari berbagai latar belakang, menyaksikan perubahan sosial, mengikuti dinamika kekuasaan, serta merekam berbagai kejadian yang mungkin tidak selalu tercatat dalam sejarah resmi.

Pengalaman semacam itu memiliki nilai lebih ketika dituliskan. Buku menjadi salah satu cara untuk menyimpan ingatan kolektif tentang perjalanan pers dan perubahan masyarakat dari masa ke masa.

Bedah buku tersebut sekaligus menjadi ajakan bagi para wartawan untuk mulai menuliskan pengalaman profesinya. Tidak harus menunggu menjadi tokoh besar atau mencapai jabatan tertentu. Setiap perjalanan memiliki cerita dan pelajaran yang layak dibagikan.

Bagi Jumar, buku ini merupakan cara melihat kembali perjalanan seperempat abad bersama Radio Sonora. Dari pekerjaan yang berada di balik saluran komunikasi, ia kemudian memasuki dunia peliputan dan berkesempatan menyampaikan berbagai peristiwa kepada masyarakat.

Perjalanan itu menunjukkan bahwa karier tidak selalu bergerak melalui jalur yang telah direncanakan. Namun, ketekunan, kemauan belajar, dan kesediaan menjalani setiap proses dapat membuka kesempatan yang sebelumnya tidak terbayangkan.

Pada akhirnya, kesempatan meliput di Istana Kepresidenan mungkin menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan seorang wartawan. Namun, nilai yang lebih mendasar justru terletak pada bagaimana ia menjaga integritas ketika berhadapan dengan kekuasaan dan tetap berpihak pada kepentingan publik.

Melalui kegiatan ini, PWI Jaya tidak hanya menghadirkan ruang apresiasi terhadap karya literasi, tetapi juga mendorong tumbuhnya tradisi menulis di kalangan wartawan.

Sebab, pengalaman jurnalistik tidak seharusnya berakhir ketika seseorang meninggalkan ruang redaksi. Ia dapat terus hidup melalui tulisan, menjadi sumber pembelajaran, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Setiap wartawan memiliki cerita. Setiap peristiwa menyimpan pelajaran. Dan sebuah buku memberi kesempatan agar pengalaman itu tidak hilang ditelan waktu.*

Penulis

Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Polisi Tetapkan Pengemudi Bus, Tersangka Kecelakaan di Pelabuhan Bakauheni

    Polisi Tetapkan Pengemudi Bus, Tersangka Kecelakaan di Pelabuhan Bakauheni

    • calendar_month Rabu, 28 Feb 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Lamsel, MSINews.com – Polres Lampung Selatan (Lamsel) telah menetapkan F (36) sebagai tersangka dalam kecelakaan yang terjadi di gerbang tol seaport Pelabuhan Bakauheni pada hari Minggu, 25 Februari 2024. Kapolres Lampung Selatan AKBP Yushriandi Yusrin menyampaikan bahwa kecelakaan ini disebabkan oleh faktor kelalaian dari pengemudi. Menurut keterangan yang diberikan, pengemudi tidak melakukan pengecekan kondisi kelayakan […]

  • Sri Mulyani Ungkap Realisasi Belanja APBN 2023 di Satker Rp.427 M

    Sri Mulyani Ungkap Realisasi Belanja APBN 2023 di Satker Rp.427 M

    • calendar_month Jumat, 4 Agt 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 201
    • 0Komentar

    Jakarta, Infomsi–Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan penggunaan Kartu Kredit Pemerintah (KKP) terus meningkat sejak diluncurkan pada 2019. Kehadirannya dianggap memudahkan pembayaran dalam transaksi pengadaan barang dan jasa bagi pemerintah pusat dan daerah. “Selama 2019 sampai 2022 nilai transaksi Kartu Kredit Pemerintah mengalami peningkatan,” kata Sri Mulyani dalam acara Temu Bisnis Tahap VI-Indonesia Catalogue Expo and […]

  • Mensos  Saifullah Yusuf  Tinjau Calon Lokasi Sekolah Rakyat di Lampung

    Mensos  Saifullah Yusuf  Tinjau Calon Lokasi Sekolah Rakyat di Lampung

    • calendar_month Selasa, 13 Mei 2025
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 196
    • 0Komentar

    Bandar Lampung,msinews.com — Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) meninjau calon lokasi Sekolah Rakyat di kompleks Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Pemprov Lampung, Senin (12/5/2025). Didampingi Wakil Gubernur Lampung dr. Jihan Nurlela dan anggota Komisi VIII DPR RI dari Dapil II Lampung, Aprozi Alam, Gus Ipul mengecek satu per satu fasilitas yang akan digunakan […]

  • Senator Sulut,Stefanus Kunjungi Pasar Tradisional Baru di Desa Pinaesaan

    Senator Sulut,Stefanus Kunjungi Pasar Tradisional Baru di Desa Pinaesaan

    • calendar_month Senin, 13 Okt 2025
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 203
    • 0Komentar

    MSNEWS.COM- Senator Sulawesia Utara, Ir. Stefanus BAN Liow, MAP mengunjungi Pasar Tradisional Tompaso Baru di Desa Pinaesaan, Sabtu (11/10) siang. Ia melakukan kegiatan tersebut usai menghadiri kegiatan penanaman cabe rawit bersama penyuluh pertanian berprestasi dan teladan Renly Liow  dan Kelompok Masyarakat Desa Sion Kecamatan Tompaso Baru,hari ini. Usai dari penanaman cabe rawit, pria yang dikenal sangat […]

  • Optimis, Hj.Novita Hardini akan Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Seni di Indonesia di Senayan 

    Optimis, Hj.Novita Hardini akan Perjuangkan Aspirasi Masyarakat Seni di Indonesia di Senayan 

    • calendar_month Selasa, 1 Okt 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com-Hj. Novita Hardini Mochamad, S.E., M.E., anggota DPR RI terpilih dari Fraksi PDI-Perjuangan, Dapil Jawa Timur VII optimis dirinya akan memperjuangkan aspirasi masyarakat sebagaimana peran dan tugasnya sebagai seorang Legislatif di DPR Pusat. Berangkat dari Seni Peran, Novita berkomitmen memperjuangkan apa yang dititipkan konstituennya. “Sebagai perempuan, saya merasakan campur aduk menjelang hari ini. Ada ketakutan […]

  • Bamsoet: Idealnya MPR RI Dikembalikan Menjadi Lembaga Tertinggi Negara

    Bamsoet: Idealnya MPR RI Dikembalikan Menjadi Lembaga Tertinggi Negara

    • calendar_month Rabu, 16 Agt 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Jakarta, Infomsi.News–Ketua MPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyinggung lembaga yang berwenang untuk menentukan sikap jika ada kondisi darurat jelang Pemilu. Bamsoet berbicara sebaiknya MPR RI dikembalikan menjadi lembaga tertinggi di Republik Indonesia. “Sekiranya menjelang Pemilu terjadi sesuatu yang di luar dugaan kita bersama, seperti bencana alam yang dahsyat berskala besar, peperangan, pemberontakan, atau pandemi yang tidak […]

expand_less