Pengelola Media Gereja Katolik Bangun Sinergitas Berjejaring
- account_circle Media Sejahtera Indonesia
- calendar_month 48 menit yang lalu
- visibility 12
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PONTIANAK,MSINEWS.COM – Membuat konten menarik dan mendalami teknologi informasi serta AI, baru setengah jalan perjuangan pengelola media Gereja Katolik. Tantangan berikutnya berupa membangun jejaring diseminasi yang luas.
Pegiat Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) di setiap keuskupan ditantang dua hal sekaligus, yakni memperkuat pondasi media internal sambil memperluas relasi dengan jaringan media arus utama.
Utusan 18 Komsos Keuskupan se-Indonesia membahas tantangan ini di hari kelima Perayaan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN) XIII di Pontianak, Sabtu (30/05/2026). Saat yang sama, para peserta muda sedang menjalani review hasil praktik produksi konten berupa podcast, video pendek, konten kreatif, dan liputan jurnalistik.
Sekretaris Komisi Komsos KWI, RD Petrus Noegroho Agoeng, menyebut pegiat komunikasi tak boleh mengurung diri dalam “menara gading” media internal semata. Relasi eksternal dengan media arus utama wajib terbangun secara erat sehingga tercipta sinergitas.

Mentor membantu peserta saat praktik produksi konten podcast di workshop PKSN XIII Pontianak. Foto: Komsos KAP
“Ada kalanya suatu eksposur konten cukup di kalangan internal media paroki atau keuskupan. Namun banyak juga konten bernilai universal yang memerlukan sinergi dengan media arus utama. Bahkan untuk kalangan manca negara. Banyak kekayaan Gereja di Indonesia layak diperkenalkan kepada semua bangsa. Maka Komsos perlu berpikir menyediakan konten berbahasa asing, minimal bahasa Inggris,” ujar Agoeng.
Jurnalis Katolik yang juga berkontribusi di forum pimpinan komsos tersebut, Gabriel Abdi Susanto, menegaskan diseminasi publikasi penting untuk memperkenalkan karya-karya Gereja Indonesia tingkat nasional hingga internasional. Menurut dia, banyak karya dan kegiatan Gereja yang bernilai, namun belum dikenal luas karena kurang publikasi konsisten.
“Harus jaga konsistensi produksi konten. Aktif membagikan publikasi itu agar memperoleh penyebaran lebih luas. Dengan informasi rutin dan konsisten, mudah membangun loyalitas pembaca,” ujar Abdi Susanto.
Pemanfaatan media sosial juga efektif untuk memperluas jangkauan pembaca. Pendekatan story telling disarankan untuk menjangkau pembaca daerah, karena sifatnya menarik dan mudah dicerna.
Jurnalis senior The Jakarta Post, Kornelius Purba, mengatakan, jurnalisme Gereja tak sekadar menyampaikan informasi menarik, tetapi juga menyuarakan harapan. Ini sebagai cara memperkuat nilai kemanusiaan sekaligus pewarta “kabar baik” bagi dunia.

Peserta pelatihan konten PKSN XIII Pontianak saat mendikusikan konsep sebelum eksekusi. Foto: Komsos KAP
“Wartakanlah nilai-nilai Kristiani kepada dunia melalui karya jurnalistik yang humanis dan berorientasi pada good news,” kata Kornelius Purba.
Dia memotivasi pegiat Komsos agar membangun konten dari sudut pandang “orang kecil”, sehingga maknanya lebih mendalam, menyentuh, dan mampu membangun empati pembaca.
“Saya harap para pastor, pegiat Komsos, dan umat lebih aktif membagikan kisah-kisah inspiratif dari lingkungan Gereja maupun masyarakat. Wartakan kepada dunia melalui cerita-cerita yang membawa pengharapan,” ujar Kornelius Purba.
Bedah Karya
Di kelas jurnalistik, hasil liputan praktik ditayangkan, dibaca, dan dibedah oleh Abdi Susanto sebagai mentor. Kelemahan umumnya para pemula ada pada kesulitan menyusun kalimat, memahami struktur tulisan, mengolah hasil wawancara dan reportase, sampai pada menulis judul.
“Menulis tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi belajar berkomunikasi yang baik dengan pembaca,” kata Abdi Susanto.
Di kelas podcast, karya seluruh peserta ditayangkan bergiliran di layar videotron. Mentor memberi koreksi bahkan kritik sebagai bekal bagi kreator kelak berkarya di Komsos masing-masing.
Seorang mentor, Jose Marwoto, menekankan pentingnya kemampuan host membangun suasana percakapan yang hidup dan mengalir. Host pada podcast tidak cukup hanya membacakan daftar pertanyaan, tetapi harus mampu menggali cerita, emosi, dan pengalaman narasumber.
“Podcast yang baik tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menghadirkan cerita yang mampu membuat pendengar terlibat secara emosional,” kata Jose Marwoto.
Di kategori konten kreatif, Ignasius Kristoper Adi Surya menyoroti pentingnya kesesuaian antara narasi, gambar, dan audio. Secara umum, ide yang diolah peserta cukup menarik dan relevan. Namun banyak kelemahan pada detail teknis, seperti konsistensi format video, penggunaan subtitle, kualitas audio, serta pemilihan gambar yang mendukung pesan utama.
“Konten sederhana sekalipun dapat menjadi kuat apabila didukung naskah yang baik dan penyampaian pesan yang jelas,” kata dia.
Sementara di kategori video pendek, Samuel Krismanto mengajak peserta lebih memahami karakter film dokumenter. Dokumenter bukan hanya menampilkan informasi, tetapi harus mampu menggali konflik, nilai, atau makna yang lebih dalam dari sebuah peristiwa.
Dia menilai video hasil praktik peserta masih berada pada ranah berita informatif atau video profil. Belum menghadirkan sudut pandang yang kuat, termasuk alur yang jelas.
“Buatlah gambar yang bercerita, bukan cerita yang diberi gambar,” tegas Samuel.

Ketua Komisi Komsos Keuskupan Agung Pontianak, Paulus Mashuri (kiri) sedang mengarahkan peserta PKSN XIII. Foto: Komsos KAP
Penulis Media Sejahtera Indonesia
Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik


Saat ini belum ada komentar