Di Sidang MPR,Presiden Sampaikan Sejumlah Program, Termasuk Pendidikan
- account_circle Media Sejahtera Indonesia
- calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
- visibility 35
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA,MSINEWS.COM-Presiden Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraan sidang tahunan MPR, DPR dan DPD RI, menegaskam bahwa akan terus memperluas Sekolah Rakyat sebagai sekolah berasrama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
“Program Sekolah Rakyat dirancang untuk memberikan akses pendidikan sekaligus memenuhi kebutuhan dasar siswa melalui ruang kelas, tempat tinggal, makanan bergizi, komputer, tenaga pengajar, serta lingkungan yang aman,” kata Presiden.
Menurutnya, Sekolah Rakyat sebagai salah satu upaya memutus mata rantai kemiskinan antargenerasi. Hingga saat ini, sebanyak 93 Sekolah Rakyat permanen telah dibuka. Jika digabung dengan Sekolah Rakyat rintisan, jumlahnya mencapai 182 sekolah.
“Kita juga membangun Sekolah Rakyat, sekolah berasrama bagi anak dari keluarga paling tidak berdaya, dengan ruang kelas, tempat tinggal, makanan bergizi, komputer, guru, dan lingkungan yang aman. Kita ingin memutuskan lingkaran kemiskinan,” ungkap Presiden Prabowo, di Komplek parlemen, senayan, Jakarta, 14 Agustus 2026.
Kata dia, kalau orang tua mengalami kondisi kemiskinan, anak-anak mereka tidak boleh. Sesuai Pasal 34 Undang Undang Dasar Negara.
Salah satu siswa yang merasakan manfaat program tersebut ialah Muhammad Risky Pratama, 12 tahun, siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama 2 Medan.
Sebelum bersekolah kembali, Risky harus mengayuh sepeda hingga puluhan kilometer sambil membawa sekitar 30 kilogram ikan untuk dijual. Kondisi tersebut membuat Risky sempat putus sekolah dan belum lancar membaca serta menghitung.
Kini, Risky kembali mendapatkan kesempatan belajar dan menata cita-citanya melalui Sekolah Rakyat.
“Tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak,” ucap Kepala Negara.
Kisah serupa dialami Citra Nur Ramadhani dari Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan. Saat duduk di kelas 4 sekolah dasar, Citra hampir berhenti sekolah karena harus membantu ibunya berjualan kacang.
Ayah Citra telah wafat, sementara ibunya merupakan penyandang disabilitas. Kehadiran Sekolah Rakyat memberi Citra kesempatan melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan keluarganya menghadapi kondisi sulit seorang diri.
Citra bahkan mampu menunjukkan prestasi setelah mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat. Ia berhasil meraih juara karate tingkat Kabupaten.
Prestasi juga datang dari siswa Sekolah Rakyat di Makassar. Sebanyak tujuh siswa berhasil memenangkan Olimpiade Nasional Indonesia ke-15 dalam sejumlah bidang, yakni Matematika, Biologi, Bahasa Indonesia, Sejarah, dan Sosiologi.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak menentukan batas kemampuan seorang anak.
Ketika memperoleh kesempatan pendidikan dan fasilitas yang memadai, siswa dari keluarga kurang mampu juga mampu berkompetisi hingga tingkat nasional maupun internasional.
“Capaian ini membuktikan bahwa pelajar dari keluarga yang paling tidak mampu, jika diberikan kesempatan, diberikan fasilitas, bisa mencapai prestasi nasional bahkan internasionali,” ujarnya.
Ketidakmampuan tidak boleh menjadi warisan. Kesempatanlah yang harus kita wariskan.
“Mari kita berikan tepuk tangan kepada Risky, Citra, dan semua siswa siswi Sekolah Rakyat,” pungkasnya. ** Tim redaksi.
Penulis Media Sejahtera Indonesia
Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik



Saat ini belum ada komentar