Dari Uhud Kenang Boedi Oetomo yang Menyala
- account_circle Media Sejahtera Indonesia
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
DI bukit ini, Rasulullah terluka. Sahabat gugur. Pasukan tercerai-berai. Tapi dari puing kepedihan itu, mereka tidak mati. Mereka introspeksi. Membenahi barisan. Lalu bangkit menjadi kekuatan yang tak terkalahkan.
1.283 tahun kemudian, di Batavia, dr. Wahidin dan dr. Sutomo melakukan hal yang sama. Bangsa sedang terpuruk dalam penjajahan. Tapi mereka memilih bergerak. Dari ruang kecil. Tanpa pedang. Hanya dengan keyakinan: kita harus bangkit.
Dua peristiwa. Satu makna:
Kekalahan bukan akhir. Keterpurukan bukan takdir.
Hari ini, 20 Mei 2026, saya berdiri di sini bertanya: Api kebangkitan itu masih menyala di dada kita, atau sudah menjadi abu?
Jangan biarkan kita hanya pandai mengenang, tapi lupa bergerak.
Bangkitlah, Indonesia. Sekarang. Bukan besok.**
Dr. Rieke Diah Pitaloka/Anggota DPR FI.
Penulis Media Sejahtera Indonesia
Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik


Saat ini belum ada komentar