MPR Gelar Wayang Kulit dengan Tokoh “Gatuthkaca Kalajaya” di Wonogiri
- account_circle Media Sejahtera Indonesia
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MPR Gelar Wayang Kulit dengan Tokoh
“Gatuthkaca Kalajaya” di Wonogiri
WONOGIRI- Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto bersama Anggota MPR RI Casytha Arriwi Kathmandu dan jajaran pemerintah daerah menghadiri pagelaran wayang kulit dalam rangka Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Lapangan Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Minggu (1/11/2026).
Kegiatan ini atas kerja sama dengan Sekretariat Jenderal MPR RI dengan tokoh sayang “Gatuthkaca Kalajaya” yang dibawakan oleh dalang Ki Bayu Aji.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Hadir dalam acara tersebut Wakil Ketua MPR RI Ir. Bambang Wuryanto, M.B.A.; Anggota MPR RI dari Kelompok DPD RI Daerah Pemilihan Jawa Tengah, Casytha Arriwi Kathmandu, S.E., M.Fin.; Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Jenderal MPR RI Heri Herawan, S.H.; Bupati Wonogiri Setyo Sukarno; pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah serta Kabupaten Wonogiri; tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, seniman, budayawan, dan masyarakat pecinta seni wayang kulit.
Dalam sambutannya, Casytha Arriwi Kathmandu mengungkapkan bahwa pagelaran wayang kulit tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu cara merawat kebudayaan sekaligus menanamkan nilai-nilai Pancasila.
Melalui seni tradisional ini, semangat gotong royong dan kecintaan terhadap warisan budaya bangsa dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Pagelaran wayang kulit ini adalah wujud nyata bentuk gotong royong, yang merupakan inti dari Pancasila. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya melestarikan dan memuliakan kebudayaan Jawa sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia,” ujar Casytha.
Ia menambahkan bahwa warisan budaya Indonesia yang telah mendapatkan pengakuan UNESCO pada 2003 itu lebih dari sekadar tontonan. Setiap lakon pewayangan juga mengandung pesan moral dan tuntunan kehidupan yang relevan untuk dipelajari lintas generasi.
Menurut Plt. Sekretaris Jenderal MPR RI Heri Herawan, pagelaran seni budaya, termasuk wayang kulit, telah lama menjadi salah satu metode MPR RI untuk menyosialisasikan Empat Pilar kepada masyarakat.
“Pertunjukan wayang bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan dan tatanan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai Empat Pilar sejatinya tercermin dalam kehidupan masyarakat maupun karakter tokoh-tokoh pewayangan. Berbagai karakter dengan watak dan latar belakang berbeda mengajarkan pentingnya kebaikan, kebersamaan, keadilan, serta sikap saling menghormati.
Heri juga menyoroti antusiasme masyarakat yang menyaksikan pertunjukan tersebut. Berdasarkan informasi panitia, sekitar 10.000 orang hadir memadati lokasi pagelaran. Jumlah penonton tersebut menunjukkan bahwa seni tradisional masih memiliki tempat di tengah masyarakat, meskipun menghadapi gempuran budaya luar dan perkembangan konten digital.
“Kehadiran masyarakat pada malam hari ini membuktikan bahwa seni tradisi kita tetap dicintai dan tidak kehilangan relevansinya,” terangnya.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menyampaikan kebanggaannya karena Kabupaten Wonogiri dipercaya menjadi lokasi penyelenggaraan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI melalui pendekatan seni budaya. Ia mengatakan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan program pemerintah daerah yang setiap tahun menggelar pagelaran wayang kulit secara serentak di 25 kecamatan.
Pagelaran dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto atau Bambang Pacul melalui penyerahan tokoh wayang kepada Ki Bayu Aji. Lakon “Gatuthkaca Kalajaya” yang dibawakan sang dalang mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Warga datang berduyun-duyun dari berbagai desa, baik secara pribadi, bersama keluarga, maupun dalam komunitas pecinta wayang kulit.
Salah satunya adalah Suparman, warga Baturetno, yang mengaku telah menyukai wayang kulit sejak kecil. Ia sengaja datang bersama keluarganya agar anak-anaknya juga mengenal dan mencintai seni tradisional tersebut.
“Di mana ada wayang, saya usahakan nonton. Ya, hobi saya. Pokoknya ini hiburan rakyat dan kami senang,” kata Suparman.
Selain menjadi ruang hiburan dan pelestarian budaya, kegiatan tersebut turut menggerakkan perekonomian masyarakat. Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ikut meramaikan lokasi dengan menjajakan berbagai produk, mulai dari wedang ronde, makanan khas Wonogiri, hingga kerajinan wayang berbahan kardus.
Suyono dan Kari, perajin wayang kardus asal Wonogiri, menyambut baik penyelenggaraan kegiatan tersebut. Mereka berharap pagelaran serupa dapat terus digelar karena memberikan ruang bagi pelaku usaha rumahan untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat.
“Kami berterima kasih kepada MPR RI dan Pemkab Wonogiri yang menyelenggarakan pagelaran wayang kulit ini. Sehingga membuat para pengrajin rumahan seperti kami bisa ada wadah menjajakan produk kami,” ujarnya. **tim Redaksi.
Penulis Media Sejahtera Indonesia
Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik



Saat ini belum ada komentar