Sriwijaya Punya Modal Sejarah: Dari Taman Miniatur Menjadi Destinasi Dunia
- account_circle Media Sejahtera Indonesia
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh : Firman Satria, S,Pd, Gr,
NAMA Sriwijaya sudah lama menjadi bagian dari cerita besar Nusantara. Kerajaan, prasasti, kapal dan perdagangan menjadi bagian dari jejak sejarah yang masih dibicarakan sampai sekarang.
Persoalannya, jejak itu berada di banyak tempat dan tidak selalu mudah dilihat dalam satu rangkaian. Buku, museum, situs dan peninggalan menjadi pintu untuk mengenalnya. Dari sini muncul gagasan Dr. A. Erwan Suryanegara, M.Sn., seniman dan pemerhati kebudayaan, yang dituangkan dalam tulisan “Taman Miniatur Sriwijaya: Revitalisasi dan Reaktualisasi” di MSI News.
Gagasan itu menawarkan cara menghadirkan kembali gambaran Sriwijaya dalam sebuah kawasan yang lebih luas.
Lokasinya direncanakan di sekitar Desa Upang, Kabupaten Banyuasin, di kawasan Sungai Musi. Luas awal yang disebut mencapai “300 – 450 hektare”. Isinya bukan hanya taman, melainkan kawasan dengan sejumlah fungsi, mulai dari penelitian dan pengembangan, fasilitas umum, perhotelan, rumah sakit dan perkantoran hingga “Institut Budaya Indonesia Sriwijaya”.
Pembangunan dibayangkan berlangsung bertahap, dimulai dari kawasan inti kemudian berkembang mengikuti kebutuhan dan tata kelola.
Skalanya juga cukup besar. Sejumlah peninggalan Sriwijaya diusulkan direkonstruksi dalam ukuran 1:1, termasuk percandian Muaro Jambi, Muaro Takus dan Bumiayu serta istana Sriwijaya.
Ada “Monumen Sri Baginda Dapunta Hyang Srijayanasa” yang dilengkapi museum. Untuk memperkuat gambaran Sriwijaya sebagai kekuatan maritim, terdapat pula gagasan “Monumen Kapal Sriwijaya, mengambil inspirasi dari relief kapal Borobudur.
Terdapat juga Replika kapal dengan berbagai ukuran bahkan dirancang untuk dapat berlayar di antara pulau-pulau di dalam kawasan.
Upang dalam rancangan itu memiliki hubungan dengan jejak sejarah yang menjadi dasar gagasan. Prasasti Kedukan Bukit 682 M disebut berkaitan dengan perjalanan menuju Mukha Upang.
Ada pula temuan dua keping papan pecahan kapal di Dusun Mariana, Banyuasin, yang dalam tulisan sumber disebut telah dikuburkan kembali untuk menjaga kondisinya. Jika kawasan tersebut nantinya dibangun, tinggalan itu dapat ditempatkan dalam rangkaian cerita dan pembelajaran mengenai Sriwijaya.
Dari sebuah kawasan sejarah, kegiatannya bisa berkembang ke banyak bidang. Siswa dapat belajar melalui rekonstruksi yang dilihat langsung. Peneliti memiliki ruang untuk bekerja. Seniman dapat menghadirkan tari, musik, teater, film dan seni rupa.
Wisatawan bisa datang untuk melihat peninggalan sekaligus menikmati kuliner, kerajinan dan pertunjukan budaya. Aktivitas seperti itu bersentuhan langsung dengan UMKM, pemandu wisata, transportasi, penginapan dan usaha kreatif. Dalam tulisan tersebut juga terdapat gagasan keterlibatan ahli dari berbagai bidang dan pengelolaan profesional melalui semacam “otorita khusus”.
Sumatera Selatan sebenarnya sudah memiliki banyak bahan untuk menceritakan kembali Sriwijaya: Sungai Musi, Upang, prasasti, situs, artefak, seni dan tradisi budaya. Gagasan Taman Miniatur Sriwijaya mempertemukan berbagai unsur itu dalam satu kawasan, bersama pendidikan, penelitian, seni, budaya dan pariwisata.
Dalam rancangan yang ditawarkan, semua unsur tersebut menjadi bagian dari sebuah kawasan yang dibangun secara bertahap, dengan perencanaan dan pengelolaan yang dipersiapkan untuk jangka panjang. **
Penulis Media Sejahtera Indonesia
Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik



Saat ini belum ada komentar