Audiensi Kolaborasi BNPB dan BMKG dalam Penanggulangan Bencana
- account_circle Media Sejahtera Indonesia
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Penanggulangan bencana di Indonesia ibarat kerja tim raksasa yang membutuhkan dukungan banyak pihak di setiap fasenya. Tidak sekadar butuh tenaga di lapangan, kehadiran data, informasi cuaca, dan analisis dari ahlinya terbukti menjadi kunci sukses operasi penyelamatan maupun kesiapsiagaan bencana.
Sadar akan krusialnya kolaborasi ini, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang baru saja dilantik pada Kamis (15/10) lalu, Letjen TNI Kristomei Sianturi, langsung bergerak cepat. Pada Sabtu (17/10), ia mengajak Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani berdiskusi guna mencari terobosan dan cara yang efektif dalam penanggulangan bencana.
Pertemuan yang berlangsung hangat di Graha BNPB, Jakarta, ini difokuskan untuk meracik strategi penguatan sinergi antara kedua lembaga. Terutama, dalam merespons ancaman bencana yang masih terjadi di tanah air, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga fenomena alam lainnya.
Kepala BNPB berharap BMKG dapat terus memberikan dukungan penuh, khususnya melalui suplai data dan analisis cuaca yang tajam untuk memandu operasi tim di lapangan.
“Terima kasih atas dukungan BMKG terhadap BNPB dalam penanggulangan bencana selama ini,” ujar Letjen Kristomei di sela-sela pertemuan tersebut.
Ia mengapresiasi kerja sama solid yang sudah terbangun antara BNPB dan BMKG, seperti dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) dan analisis dini peringatan cuaca. Menurutnya, akurasi data dari BMKG bak “kompas” yang sangat membantu otoritas kebencanaan untuk bertindak cepat, baik dalam fase siaga maupun tanggap darurat. Kekompakan ini pun tidak hanya berhenti di tingkat pusat, melainkan juga kolaborasi hingga ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di seluruh pelosok negeri.
Diskusi kedua tokoh ini juga menyoroti situasi terkini terkait penanganan kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah provinsi. Menariknya, di tengah anomali cuaca dan karhutla ini, beberapa daerah justru sudah mulai diintai ancaman bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan longsor. Hal ini tentu menuntut kesiapsiagaan ganda dari seluruh elemen pemerintah.
Sebagai penutup, Letjen Kristomei menegaskan bahwa urusan bencana bukanlah tugas satu lembaga saja.
“Penanggulangan bencana di Indonesia membutuhkan kolaborasi dan sinergi lintas kementerian dan lembaga. BNPB tidak bisa bekerja sendiri. Kerja sama sangat penting untuk mengoptimalkan upaya kita bersama dalam melindungi masyarakat,” tegasnya.**
Penulis Media Sejahtera Indonesia
Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik



Saat ini belum ada komentar