Keseombongan Intelektual Dalam Kepemimpinan Pemerintahan
- account_circle Media Sejahtera Indonesia
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 25
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh: Sonni Lokobal
Ketua Analisis Papua Strategis (APS) Provinsi Papua Pegunungan
Dalam kepemimpinan pemerintahan, kecerdasan intelektual tidak boleh berjalan tanpa kecerdasan sosial. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut mampu memahami data, regulasi, dan konsep pembangunan, tetapi juga wajib memahami perasaan, kebutuhan, pengalaman, serta suara masyarakat yang dipimpinnya.
Saya melihat ada gejala yang perlu menjadi perhatian dalam kepemimpinan pemerintahan hari ini: kesombongan intelektual atau dalam istilah akademik dapat dikaitkan dengan epistemic arrogance—kecenderungan merasa bahwa pengetahuan, cara pandang, atau keputusan sendiri paling benar sehingga pandangan masyarakat, bawahan, maupun pihak lain kurang dianggap penting.
Dalam konteks tertentu, gejala ini bahkan sering digambarkan dengan istilah “God Complex”, yaitu sikap psikologis ketika seseorang merasa memiliki otoritas atau kebenaran yang seolah-olah berada di atas kritik. Namun istilah tersebut harus digunakan secara hati-hati. Kritik terhadap pola kepemimpinan tidak boleh berubah menjadi diagnosis terhadap pribadi seseorang.
Pemerintahan pada dasarnya adalah hubungan sosial. Kekuasaan diberikan bukan untuk menciptakan jarak antara pemimpin dan rakyat, melainkan untuk membangun kepercayaan. Karena itu, pemimpin harus mampu mendengar sebelum memutuskan, berdialog sebelum mengambil kebijakan, dan membuka ruang koreksi ketika kebijakan belum menjawab kebutuhan masyarakat.
Di Papua Pegunungan, prinsip ini menjadi semakin penting. Masyarakat memiliki struktur sosial, adat, agama, sejarah, dan pengalaman hidup yang tidak selalu dapat dibaca hanya melalui angka-angka dalam dokumen pemerintahan. Data memang penting, tetapi data tanpa konteks sosial dapat menghasilkan kebijakan yang benar secara administratif tetapi belum tentu dirasakan benar oleh masyarakat.
Pemimpin yang kuat bukanlah pemimpin yang tidak pernah dikritik. Justru kekuatan kepemimpinan terlihat dari kemampuan menerima kritik tanpa merasa kehilangan kewibawaan. Kritik publik bukan ancaman terhadap pemerintah kritik adalah mekanisme sosial untuk mengoreksi kekuasaan agar tetap berada pada jalur kepentingan rakyat.
Karena itu, pemerintahan Papua Pegunungan membutuhkan kepemimpinan yang menggabungkan intelektualitas, kerendahan hati, kecerdasan sosial, dan keberanian untuk mendengar. Jangan sampai pengetahuan menjadi tembok yang memisahkan pemerintah dari rakyat.
Sebab pada akhirnya, pemerintah bukan hanya tentang siapa yang paling tahu, tetapi siapa yang paling mampu memahami dan melayani mereka yang dipimpinnya.
Selamat malam salam sehat untuk kita semua wa wa wa 🙏🏽
Wamena Leyowa. 24 September 2026
Penulis Media Sejahtera Indonesia
Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik



Saat ini belum ada komentar