Hermeneutika Kapal Perang KRI Sriwijaya Sangat Presisi dan Proporsional
- account_circle Media Sejahtera Indonesia
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh Syamsul Noor Fajri
Dalam konteks penamaan kapal militer, Italian Ship adalah kepanjangan dari prefiks ITS yang digunakan sebagai penanda kapal milik Angkatan Laut Italia (Marina Militare) dalam standar penamaan NATO.
Kenapa fakta di sekitar KRI Sriwijaya perlu diungkap? Sebab, Pemerintah Indonesia tidak membeli kapal tersebut, melainkan mendapatkannya secara gratis melalui skema hibah.
Transaksi kapal induk ini dapat dirinci melalui beberapa poin penting berikut:
Pertama, mekanisme Hubungan G2G: Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi diserahkan oleh Pemerintah Republik Italia kepada Kementerian Pertahanan RI menggunakan skema kerja sama antarpemerintah atau Government-to-Government (G2G).
Komisi I DPR RI secara resmi menyetujui penerimaan hibah aset militer senilai 54,02 juta euro ini pada Juli 2026.
Kedua, keterlibatan Perusahaan Italia: Meskipun berstatus hibah gratis dari pemerintah Italia, pihak Kementerian Pertahanan RI tetap menyiapkan anggaran khusus untuk proses refurbishment atau peremajaan teknis (retrofit). Proses penyesuaian teknologi ini dibahas dan dikerjasamakan dengan pihak galangan pembuatnya, yaitu Fincantieri.
Kapal induk Giuseppe Garibaldi ini murni didapatkan Indonesia melalui program hibah gratis dari Pemerintah Italia, bukan melalui proses pembelian.
Masyarakat memang membutuhkan penjelasan konkret agar tidak salah kaprah. Kedatangan alutsista baru tidak harus selalu melalui proses pembelian yang menguras anggaran negara.
Karena melalui skema hibah maka harga kapal tersebut adalah nol Rupiah. Pemerintah Indonesia tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk membayar harga fisik kapal induk tersebut.
Anggaran diperlukan hanya untuk perbaikan (refurbishment). Dana yang disiapkan oleh Kementerian Pertahanan RI bukan untuk membeli kapal, melainkan untuk biaya peremajaan, perbaikan teknis, dan pengiriman dari Italia menuju Indonesia agar kapal siap pakai saat diserahkan ke TNI AL.
Keuntungan transfer teknologi didapat melalui skema hibah ini. Teknisi dan personel TNI AL mendapatkan kesempatan mempelajari teknologi kapal induk secara langsung tanpa harus membayar biaya riset dan pembuatan yang sangat mahal.
Jadi, penegasan Anda sangat tepat: ini adalah aset hasil hibah antar-pemerintah (G2G) dan bukan program pembelian (pengadaan) alutsista baru.
Berdasarkan prasasti-prasasti peninggalan seperti Prasasti Kedukan Bukit (682 M), Kedatuan Sriwijaya mengonsolidasikan kekuatannya melalui ekspedisi militer laut (Siddhayatra) berskala besar.
Sriwijaya menguasai jalur perdagangan dunia bukan dengan benteng di darat, melainkan dengan armada kapal perang besar yang berfungsi sebagai “pangkalan terapung”—konsep yang persis sama dengan fungsi kapal induk modern.
Sriwijaya adalah Pusat Maritim dan Kosmopolitan. Secara arkeologis, situs-situs di sepanjang Sungai Musi dan pesisir Sumatra membuktikan bahwa Sriwijaya adalah pelabuhan transito internasional terbesar di zamannya.
Menamai kapal proyeksi kekuatan (power projection) seperti Giuseppe Garibaldi dengan nama Sriwijaya, mencerminkan kembali doktrin maritim Indonesia yang mampu menjangkau samudra luar.
Geopolitik kawasan Sriwijaya secara historis diakui sebagai imperium thalasokrasi (kejayaan laut) yang menguasai Selat Malaka, Selat Sunda, hingga Laut China Selatan. Penamaan ini memberikan pesan strategis yang kuat tentang komitmen Indonesia dalam menjaga stabilitas keamanan maritim di kawasan regional saat ini.**
Penulis Media Sejahtera Indonesia
Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik



Saat ini belum ada komentar