TITIK TEMU : Ayo Mengaku, Siapa Berani Bilang Sriwijaya Misteri?
- account_circle Media Sejahtera Indonesia
- calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
- visibility 88
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh : Syamsul N. Fajri
SEORANG peneliti terkemuka tentang Sriwijaya dari EFEO Perancis, beberapa tahun silam menyatakan kemiskinan substansi atas esensi Sriwijaya. Pernyataan kontroversial tersebut tidak dapat dianggap asal bunyi alias asbun. Sebab, sang peneliti yang tentu saja berlatar belakang akademisi dan ilmuwan, yang namanya dalam Titik Temu ini sengaja tidak disebutkan secara eksplisit.
Kenapa tidak disebutkan secara tekstual? Sebab, tidak menyebutkan esensi sesuatu tidak berarti sesuatu di sekitar peneliti asal negeri jiran itu dapat dianggap misteri. Maksudnya buat sesama ilmuwan dan peneliti sejarah Sriwijaya, tokoh yang dianggap misteri tersebut bukan sesuatu misteri, apalagi misterius.
Baiklah, pernyataan tersebut merupakan pandangan kritis Pierre-Yves Manguin, seorang arkeolog dan sejarawan senior dari EFEO _(Ecole francaise d’Extreme-Orient)_, yang telah mendedikasikan puluhan tahun meneliti tentang Kedatuan Sriwijaya.
Maksud dari “kemiskinan substansi atas esensi Sriwijaya” bukanlah meremehkan arti penting Sriwijaya, melainkan suatu kritik akademis ilmiah terhadap keterbatasan sumber data dipunyai.
Poin penting mengapa pernyataan tersebut dianggap berdasar dan bukan sekadar asal bunyi, berkisar pada minimnya pemahaman sejarah Sriwijaya secara proporsional dan integral.
Salah satu penyebab utama pemahaman minim adalah sedikitnya atau terbatasnya informasi tentang analisis atau kajian ilmiah yang proporsional, holistik, dan integral.
Sebagian besar narasi besar tentang kehebatan Sriwijaya justeru direkonstruksi dari catatan luar negeri, seperti catatan perjalanan biksu Tiongkok (I Tsing) serta kronik Arab dan India.
Kajian atau analisis lokal yang dilakukan masih berkutat pada aspek kognitif dan belum menyentuh aspek afektif, apalagi konatif, volitif, motivatif, dan implementatif.
Hal ini membuat wujud semiotik “istana atau pusat ibu kota” Sriwijaya sulit dipetakan secara absolut dan absolut substansialnya masih terus diperdebatkan. Padahal sibuk menyoal wujud fisik istana Sriwijaya, seolah-olah lupa kerajaan-kerajaan yang jauh lebih belakangan juga belum jelas juntrungan istananya atau kratonnya.
Kritik dari peneliti EFEO ini sebenarnya menjadi pelecut bagi para arkeolog Indonesia dan dunia untuk terus melakukan ekskavasi dan tidak terbuai oleh romantisme sejarah, melainkan terus mencari bukti-bukti empiris baru di lapangan.
Ayo, cobalah terbuka, adil, dan jujur sedetik saja. Ayo mengaku: Siapa Berani Bilang Sriwijaya Misteri? Hampir setengah abad usia Indonesia merdeka, siapa paling bertanggung jawab yang cenderung menutup-nutupi dan membusukkan historiografi Sriwijaya? Baiklah mengaku secara gentleman. Ayo segera berbenah demi orisinalitas sejarah Nusantara cikal bakal Indonesia.*
Penulis Media Sejahtera Indonesia
Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik



Saat ini belum ada komentar