Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Budaya » Mengenal Cornelis Chastelein, Belanda Depok, Orang Baik Berbagi Tanah Gratis

Mengenal Cornelis Chastelein, Belanda Depok, Orang Baik Berbagi Tanah Gratis

  • account_circle Media Sejahtera Indonesia
  • calendar_month Sabtu, 20 Jul 2024
  • visibility 67
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta, msinews.com– Adalah Cornelis Chastelein,warga kelahiran  Amsterdam 10 Agustus 1657 dan wafat 28 Juni 1714 di Batavia (Jakarta).

Ayah Cornelis bernama Anthony Chastelein, dan Ibunya bernama Maria Cruydenier, adalah putri walikota Dordrecht yang bekerja untuk Perusahaan Hindia Barat Belandа.

Sosok Cornelis seperti dikisahkan, adalah seorang Bangsawan dan orang terkaya, juga orang baik di Batavia pada zaman itu.

Lalu seperti apa kisah orang baik yang bernama Cornelis Chastelein itu? Berikut cukilan nya?

Cornelis Chastelein adalah pegawai VOC selama 20 tahun. Ia memulai karir di kongsi dagang itu sejak usia 20-an.

Tuan Cornelis Chastelein,Pahlawan Bagi Warga Kota Depok (dok)

Karier nya diawali dengan menjadi seorang pengawas gudang. Namun, perlahan-lahan kariernya naik hingga menjadi saudagar utama dan anggota Dewan Kota Batavia.

Pria kelahiran tahun 1658 itu mendapat gaji bulanan sekitar 200-350 gulden. Angka tersebut cukup besar pada masanya. Tapi, dia menjadi salah satu orang yang cukup pintar mengelola keuangan.

Corlenis menyadari bahwa harta itu tidak mungkin dibawah pulang saat Sang Pencipta memanggilnya untuk berpulang di Sisi Bapa Nya di Surga. Sebagai manusia lemah, Cornelis juga sadar bahwa satu-satunya warisan yang akan ditinggalkan adalah  “Nama Baik” selain harta karun atau harta duniawi.

Dikutip dalam buku Depok Tempo Doeloe (2011) dijelaskan, Cornelius pertama kali membeli sebidang seluas yang terletak di kawasan Weltevreden yang kini disebut Gambir. Lahan tersebut kemudian ditanami tebu.

Dikisahkan, dua tahun setelah nya, Cornelis Chastelein memutuskan pensiun dari VOC dan kemudian membeli lagi tanah di Serengseng yang kini disebut Lenteng Agung.

Cornelis menghabiskan masa pensiun dan menjalani kehidupan baru sebagai tuan tanah di kawasan Srengssng atau Lenteng Agung Depok.

Ia kemudian membangun rumah besar dan banyak membawa orang tak hanya keluarga.

Tugu Kota Depok

“Ketika pindah ke Seringsing atau Srengseng, Cornelis Chastelein bukan hanya membawa keluarganya saja, melainkan juga budak-budaknya,” tulis Tri Wahyuning M. Irsyam dalam Berkembang dalam bayang-bayang Jakarta: Sejarah Depok 1950-1990-an (2017:41).

Adapun,jumlah budak yang dibawa mencapai 150 orang. Pada umumnya para budak itu diambil dari luar pulaun Jawa yang mayoritas beragama Kristen.

Cornelis Chastelein sebagaimana dikisahkan dalam buku sejarah tersebut, Ia sangat menghormati budak-budaknya.

Sebagai orang kristen yang taat, dia memahami persoalan hak asasi manusia, sehingga sangat menghargai,menyayangi mereka. Atas dasar ini pula, dia membebaskan semua budaknya.

Dikisahkan bahwa para bekas budak yang kemudian jadi anak buah lantas ditugaskan Cornelis Chastelein mengelola rumah besar di Serengseng. Tugas lainnya, mengurus perkebunan yang baru saja dibelinya di kawasan Mampang dan Depok.

Bersyukur bahwa seluruh lahan tersebut menghasilkan uang maupun tanaman pertanian seperti tebu, lada, pala dan kopi.

Cornelis  Chastelein semakin kaya raya. Dia jadi salah satu orang terkaya di Batavia (kini Jakarta) sebelum akhirnya tutup usia pada 28 Juni 1714.

Setelah wafat, orang-orang tak ribut kemana perginya harta dan tanah miliknya.Karena  tiga bulan sebelum wafat, tepat pada 13 Maret 1714, dia sudah menuliskan surat wasiat.

Tugu Kotamadya Depok,Jawa Barat (Sekarang)

Bahwa dia ingin seluruh hartanya tak hanya dibagikan kepada keluarga, tapi juga dibagikan gratis kepada para mantan pekerja-pekerjanya yang dimerdekakan.

“Tujuannya supaya mereka bisa hidup secara mandiri dan sejahtera.”

Selain itu, dia juga ingin tanah tersebut berfungsi sebagai tempat penyebaran agama Kristen di Batavia. Para mantan budak itu lantas mengoptimalkan lahan untuk kepentingan masing-masing.

Salah satunya menjadi cikal bakal pembentukan Kota Depok modern dan melahirkan istilah ‘Belanda Depok’. ** DM/Dari Berbagai Sumber.

Penulis

Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Senator Lia Istifhama Dorong UU Sisdiknas Baru Hadirkan Rasa Keadilan untuk Guru dan Anak Didik

    Senator Lia Istifhama Dorong UU Sisdiknas Baru Hadirkan Rasa Keadilan untuk Guru dan Anak Didik

    • calendar_month Kamis, 5 Jun 2025
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 79
    • 0Komentar
  • Timnas Indonesia

    Timnas Indonesia Siap Berhadapan, Vietnam dalam Duel Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia

    • calendar_month Kamis, 21 Mar 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 64
    • 0Komentar

    Jakarta, MSINews.com – Timnas Indonesia tengah mempersiapkan diri dengan serius untuk menghadapi tantangan berat dalam pertandingan lanjutan Grup F Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Pertarungan sengit melawan Vietnam, Timnas Indonesia bertekad untuk meraih kemenangan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada Kamis (21/3/2024) pukul 20.30 WIB. Baca juga : WHO: Wabah Kolera Terkait […]

  • Menaker Ajak Wirausaha Berinovasi di Tengah Tantangan Ketenagakerjaan

    Menaker Ajak Wirausaha Berinovasi di Tengah Tantangan Ketenagakerjaan

    • calendar_month Sabtu, 18 Jan 2025
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 76
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com– Menteri Ketenagakerjaan Yassierli membuka Pesta Wirausaha Nasional 2025 (PWN) yang digagas oleh Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA), di Gedung Smesco Indonesia, Jakarta Selatan, Jumat (17/1/2025). Acara yang mengusung tema “Elevate Your Journey” menjadi ajang kolaborasi antara pengusaha, investor, startup, dan profesional bisnis dari dalam maupun luar negeri. Menaker Yassierli memberikan apresiasi kepada Komunitas […]

  • Pererat Hubungan Bilateral, Kasad Terima Kunjungan Kehormatan Kasgab Jepang

    Pererat Hubungan Bilateral, Kasad Terima Kunjungan Kehormatan Kasgab Jepang

    • calendar_month Jumat, 25 Apr 2025
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 52
    • 0Komentar

    JAKARTA,MSINEWS.COM-Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., menerima kunjungan kehormatan Kepala Staf Gabungan (Kasgab) Pasukan Bela Diri Jepang (Chief of Staff, Joint Staff, Japan Self-Defense Force) General Yoshihide Yoshida di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jakarta Pusat, Jumat (25/4/2025). Kehadiran General Yoshihide Yoshida merupakan wujud implementasi dari eratnya hubungan kerja sama antara […]

  • Wamendagri Ribka Pastikan Enam Provinsi di Papua Alokasikan Dana untuk Tangani Kasus Malaria

    Wamendagri Ribka Pastikan Enam Provinsi di Papua Alokasikan Dana untuk Tangani Kasus Malaria

    • calendar_month Selasa, 17 Jun 2025
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Badung,msinews.com – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk menegaskan, pihaknya terus memastikan enam provinsi di wilayah Papua mengalokasikan anggaran untuk program eliminasi malaria dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Hal ini ditegaskan Ribka dalam acara Opening 9th Asia Pacific Leaders’ Summit on Malaria Elimination. Kegiatan ini berlangsung di Graha Paruman 1+2+3 Hilton Bali […]

  • Taman Miniatur Sriwijaya “APA DAN BAGAIMANA”

    Taman Miniatur Sriwijaya “APA DAN BAGAIMANA”

    • calendar_month Kamis, 20 Jun 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. A. Erwan Suryanegara, M.Sn. “Kebile-bile ku ade kance, kebile nian kanceku lege.” Mengutip satu lirik dari lagu daerah di Sumatra Selatan, yang artinya lebih-kurang, “Kapan-kapan aku ada kawan, kapankah kawanku lega.” Sebagai pembuka untuk membicarakan GAGASAN KEBUDAYAAN ini tetap harus diingat bahwa paradigma pembangunan kebudayaan adalah investasi, jadi bukan serta-merta langsung berpikir break […]

expand_less