Seribu Peziarah Legio Maria Datang ke Lewouran, Menemukan Oase Rohani di Flores Timur
- account_circle Media Sejahtera Indonesia
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 27
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LEWOURAN,MSINEWS, COM— Sekitar 1.000 anggota kelompok kategorial Legio Maria dari 21 Kuria se-Kedekanan Larantuka berarak menuju Gereja Stasi Santo Petrus Rasul di Desa Persiapan Lewouran, Kecamatan Ilebura, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Jumat, (23/10/2026).
Setelah berdoa di Gua Maria Rosa Mistika, Stasi Riangbunga, mereka melanjutkan perjalanan untuk berdoa di hadapan relikui Santo Petrus Rasul yang dibawa dari Vatikan oleh Pater Marco Solo Kewuta, SVD, putra daerah Lewouran.
Bagi umat Lewouran, kedatangan ribuan peziarah itu menjadi peristiwa bersejarah. Bagi para anggota Legio Maria, perjalanan tersebut bukan sekadar ziarah tahunan, melainkan kesempatan untuk memperdalam iman, menemukan keteduhan batin, dan mempererat persaudaraan.
Di tengah keterbatasan sarana gereja dan pengalaman masyarakat menghadapi erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki, perjumpaan itu menghadirkan harapan baru. Sebuah kampung kecil yang jauh dari pusat Gereja Katolik di Vatikan kini menjadi tujuan peziarah yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui devosi kepada Santo Petrus Rasul.
Kepala Paroki Santo Yosef Lewotobi, Romo Moses Atasoge, Pr, mengatakan, kehadiran para peziarah menjadi momentum penting bagi umat untuk berdoa bersama, bernyanyi, memuji Tuhan, dan semakin mengenal spiritualitas Santo Petrus sebagai rasul Yesus.
“Bagi umat Paroki Lewotobi, kehadiran para peziarah ini menjadi sebuah momen yang bersejarah. Mereka memaknai hari ini sebagai hari yang penuh makna,” ujar Moses.
Menurut dia, seluruh rangkaian kegiatan dipersiapkan melalui kerja sama anggota Legio Maria dari Paroki Lewotobi dan pengurus Dewan Pastoral Paroki. Mereka dilibatkan dalam kepanitiaan lokal untuk mengatur berbagai kebutuhan, mulai dari penataan lokasi hingga persiapan liturgi.
Ziarah diawali dengan doa Tesera, doa khas Legio Maria, pukul 08.00–10.00 Wita di Gua Maria Rosa Mistika, Stasi Riangbunga. Kegiatan dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin Romo Moses. Setelah makan siang, para peziarah melanjutkan perjalanan ke Gereja Stasi Santo Petrus Rasul di Lewouran.
Moses mengapresiasi keterlibatan umat yang bekerja bersama sehingga kegiatan dapat berlangsung lancar. Baginya, momentum tersebut mengajarkan pentingnya membangun persaudaraan, kerja sama, dan semangat penyerahan diri kepada Tuhan.
“Kita belajar untuk membangun persaudaraan yang kokoh, kerja sama yang baik, juga semangat penyerahan diri dalam perlindungan dan kuasa Allah. Karena kita percaya tanpa campur tangan Tuhan, semua ini tidak dapat diselesaikan dengan baik,” katanya.
Dari Gua Maria menuju relikui Santo Petrus
Ketua Pelaksana Legio Maria, Sisi Leba, menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan Ziarah Akbar Komisium Renha Rosari Larantuka yang diselenggarakan setiap Oktober. Dalam hierarki organisasi Legio Maria, komisium berada di atas kuria dan presidium.
Tahun ini, ziarah akbar diikuti anggota dari 21 kuria. Satu kuria dari Paroki Lewolaga tidak dapat hadir karena alasan tertentu.
Sesuai program tahunan, lokasi utama ziarah kali ini adalah Gua Maria Rosa Mistika di Stasi Riangbunga. Namun, Sisi mengusulkan agar rombongan melanjutkan perjalanan ke Lewouran karena gereja setempat menyimpan relikui Santo Petrus Rasul dan fragmen batu dari Pintu Suci Basilika Santo Petrus di Vatikan.
“Saya menginformasikan kepada Komisium bahwa di Stasi Santo Petrus Lewouran telah hadir relikui Santo Petrus yang dibawa oleh Pater Marco Solo Kewuta, SVD, dari Vatikan. Saya bertanya, apakah setelah berziarah di Gua Maria Rosa Mistika, kami boleh melanjutkan ziarah ke relikui Santo Petrus di Lewouran, apalagi jaraknya juga dekat,” ujar Sisi.
Usulan tersebut disetujui. Setelah menyelesaikan ziarah di Gua Maria Rosa Mistika, seluruh anggota Legio Maria berarak menuju Gereja Stasi Santo Petrus Rasul untuk berdoa di hadapan relikui tersebut.
Sisi mengatakan, keberadaan relikui Santo Petrus menjadi daya tarik tersendiri bagi para anggota. Ia juga menilai kedekatan spiritual antara Bunda Maria dan Santo Petrus menjadi alasan penting untuk menghubungkan kedua tempat ziarah itu.
“Santa Maria dan Santo Petrus dalam Injil selalu dekat dengan Yesus dan tentu dalam banyak hal bekerja sama. Oleh karena itu, dari Bunda Maria kami bergerak kepada Santo Petrus,” katanya.
Sisi menuturkan, para anggota Legio Maria merasa terkesan, terharu, dan dikuatkan imannya melalui pengalaman ziarah tersebut.
Dari Vatikan ke kampung kecil Lewouran
Kehadiran relikui Santo Petrus Rasul di Lewouran berkaitan dengan perjalanan Pater Marco Solo Kewuta, SVD, yang berkarya di Vatikan, Roma. Ia membawa relikui Santo Petrus dan fragmen batu dari Pintu Suci Basilika Santo Petrus ke kampung halamannya.
Bagi Pater Marco, rangkaian peristiwa yang mengiringi perjalanan kedua benda tersebut menyimpan makna spiritual yang mendalam. Ia mengisahkan, relikui dan fragmen batu itu menempuh perjalanan lebih dari 15.000 kilometer serta melewati enam titik pemeriksaan, yakni Roma, Dubai, Jakarta, Yogyakarta, Denpasar, dan Kupang.
Pater Marco juga mengingat bahwa Lewouran relatif selamat ketika erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki yang menghancurkan sejumlah wilayah di sekitarnya. Menurut dia, warga kampungnya tidak pernah mengungsi.
Ia menghubungkan pengalaman tersebut dengan peristiwa pada 2001, ketika memberkati gereja yang dibangun dengan susah payah oleh umat dan secara spontan memilih Santo Petrus Rasul sebagai pelindungnya. Enam tahun kemudian, pada 2007, ia dipanggil untuk berkarya di Vatikan, di lingkungan yang berpusat pada makam Santo Petrus.
“Saya tidak ingin mensakralkan Lewouran atau gereja kami, tetapi pengalaman-pengalaman di atas memendam misteri kuasa Tuhan yang mungkin belum banyak diketahui oleh orang,” ujar imam yang akrab disapa Padre Marco ini.
Bagi Pater Marco, pengalaman itu merupakan bagian dari perjalanan iman yang maknanya tidak selalu dapat dipahami manusia. Ia meyakini, ziarah dapat menjadi ruang bagi umat untuk menemukan keteduhan, memulihkan luka batin, dan menumbuhkan harapan.
Ia mengaku mendengar laporan bahwa sejumlah peziarah menitikkan air mata ketika membaca doa yang disiapkannya dan buku panduan yang ditulisnya. Marco memaknai pengalaman tersebut sebagai perjumpaan spiritual yang dapat menguatkan orang-orang yang datang membawa pergulatan hidup.
“Para peziarah akan menerima banyak kekuatan iman, keteduhan, penyembuhan luka dan harapan serta berkat,” katanya.
Menurut Pater Marco, sejumlah peziarah bahkan menyampaikan keinginan untuk kembali ke Lewouran bersama keluarga, sahabat, kelompok, atau secara pribadi.
“Jalan Tuhan selalu indah. Orang butuh meninggalkan tempatnya untuk sedikit berjalan untuk menemukan Dia di berbagai tempat, dan dalam berbagai peristiwa,” ujarnya.
Ia melihat pengalaman tersebut sebagai awal yang menjanjikan bagi pengembangan Lewouran sebagai tujuan ziarah rohani, baik di tingkat lokal maupun nasional.
Sisi pun memiliki harapan serupa. Ia menyebut Lewouran sebagai tempat yang menawarkan keteduhan bagi orang-orang yang mencari pengalaman spiritual.
“Di Lewouran ada oase rohani, ada keteduhan jiwa, ada perjumpaan dengan Tuhan melalui Santo Petrus Rasul yang abu dari makamnya kami simpan di dalam gereja yang juga berpelindung di bawah Santo Petrus Rasul,” kata Sisi.
Ia bahkan mengibaratkan Lewouran sebagai Nazaret kecil, tempat sederhana yang mungkin tidak banyak dikenal orang, tetapi menyimpan pengalaman iman yang berharga. Ia merujuk pada pertanyaan Natanael dalam Injil Yohanes 1:46, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”
Bagi Sisi, pertanyaan itu menjadi refleksi tentang bagaimana sebuah kampung kecil dapat menghadirkan pengalaman rohani bagi banyak orang.

Ribuan peziarah dari Legio Maria Larantuka berziarah ke Gereja Stasi Santo Petrus Rasul, Lewouran, Flores Timur
Iman yang berbuah dalam pelayanan
Bagi Pater Markus Solo Kewuta, SVD, Imam misionaris asal Indonesia yang telah belasan tahun bertugas di Dikasteri Tah tah Suci Vatikan ini, bahwa kehadiran relikui Santo Petrus dan fragmen batu dari Pintu Suci Basilika Santo Petrus juga memiliki makna penting dalam membangun hubungan antara Gereja universal dan komunitas umat di wilayah terpencil.
Dalam bukunya, Relikui Santo Petrus dan Batu Kudus dari Tahta Suci Vatikan di Lewouran, ia mengangkat semangat sinodalitas yang diwariskan Paus Fransiskus. Semangat tersebut menekankan perjalanan bersama, persatuan, dan keterlibatan umat dalam kehidupan Gereja.
Menurut Marco, kehadiran relikui di Lewouran menjadi semacam jembatan spiritual yang menghubungkan Vatikan dengan umat di wilayah pinggiran.
Namun, ia mengingatkan agar kehadiran relikui tidak berhenti pada kekaguman atau sensasi. Pengalaman ziarah semestinya memperkuat iman sekaligus mendorong umat melakukan tindakan nyata bagi sesama.
Padre Marco mengutip kalimat doa yang tertulis di Pintu Doa atau Porta della Preghiera di Basilika Santo Petrus, Vatikan: “Oh Tuhan, buatlah agar imanku berbuat baik.”
“Iman tidak boleh hanya berhenti pada taraf hati dan pikiran, kata-kata, atau perasaan batin, tetapi diterjemahkan secara konkret ke dalam perbuatan amal, kasih sayang, dan pelayanan terhadap sesama,” ujar Marco dalam keterangan tertulis diterima Redaksi msinews.com di Jakarta, Sabtu, 24/10.
Penerjemah bahasa mendiang Paus Fransiskus saat berkunjung ke Indonesia, 2024 itu, mencontohkan berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi masyarakat, mulai dari gagal panen, anak yatim piatu, keluarga tidak mampu, orang sakit, lanjut usia, hingga korban perdagangan manusia. Menurut dia, Legio Maria dapat mengambil peran melalui kegiatan kerasulan dan pelayanan kepada kelompok-kelompok rentan tersebut.
Semangat itu pula yang ingin terus dihidupi Sisi bersama para anggota Legio Maria. Ia menyadari bahwa sebagian besar anggota merupakan lansia, pensiunan, petani, dan ibu rumah tangga dengan kemampuan ekonomi sederhana.
Meski demikian, keterbatasan tidak menghalangi mereka untuk melayani.
“Kami akan tetap menjaga dan menghidupi serta mengembangkan semangat spiritualitas Maria. Kami akan merasul dalam doa dan karya-karya sederhana, tergantung dari apa yang bisa kami lakukan,” ujar Sisi.
Ia menjelaskan, karya sosial Legio Maria diwujudkan melalui kunjungan dan doa bersama bagi orang-orang yang mengalami musibah, penyandang disabilitas, orang sakit, lansia, serta mereka yang menghadapi persoalan keluarga dan kehidupan sosial.
Dalam sistem Legio Maria, katanya, anggota tidak selalu memberikan bantuan materi. Namun, mereka berusaha berbagi sesuai kemampuan, termasuk melalui kehadiran, doa, perhatian, dan pendampingan.
“Dalam sistem Legio Maria kami tidak memberi apa-apa, tetapi secara sosial kami memberi sesuatu yang ada pada kami sesuai kemampuan kami dan sangat sederhana,” katanya.
Bagi Sisi, kesederhanaan itu tidak mengurangi makna pelayanan. Kehadiran seseorang yang bersedia mendengarkan, menemani, dan mendoakan orang lain juga merupakan wujud nyata kasih.
Keterbatasan bukan penghalang
Sukacita atas kedatangan para peziarah juga dirasakan Ketua Dewan Stasi Gereja Santo Petrus Rasul Lewouran, Kalis Muda. Ia menyebut kunjungan sekitar 1.000 anggota Legio Maria sebagai pengalaman istimewa dan bersejarah bagi umat setempat.
“Kehadiran para peziarah bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah peristiwa iman yang membawa sukacita dan kebanggaan tersendiri bagi seluruh umat,” kata Kalis.
Namun, menyambut rombongan sebesar itu bukan perkara mudah. Gedung gereja tidak mampu menampung seluruh peziarah sehingga umat harus mengatur tempat dan pelayanan dengan fasilitas yang terbatas.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Lewouran yang juga hidup di wilayah terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki. Meski demikian, keterbatasan tidak menyurutkan semangat mereka untuk menerima para tamu.
Dengan mengandalkan gotong royong, kebersamaan, dan ketulusan, umat berusaha memberikan pelayanan terbaik. Mereka terlibat dalam persiapan tempat dan berbagai kebutuhan kegiatan agar para peziarah dapat menjalani ziarah dengan baik.
Bagi Kalis, pengalaman itu menunjukkan bahwa kemampuan melayani tidak semata-mata ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, tetapi juga oleh kesediaan untuk berbagi dan bekerja bersama.
Ia berharap kunjungan tersebut turut membuka perhatian berbagai pihak terhadap kebutuhan umat Lewouran, terutama pengembangan sarana dan prasarana gereja agar dapat melayani peziarah dengan lebih baik pada masa mendatang.
Lebih dari itu, ia berharap ziarah tersebut menjadi awal bagi semakin bertumbuhnya kehidupan menggereja, semangat doa, persaudaraan, dan kepedulian terhadap sesama.
Bagi umat Lewouran, relikui Santo Petrus bukan sekadar benda yang mengundang orang untuk datang. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa komunitas kecil yang berada jauh dari pusat Gereja Katolik tetap menjadi bagian dari Gereja universal.
Sementara bagi para anggota Legio Maria, perjalanan dari Gua Maria Rosa Mistika menuju Gereja Stasi Santo Petrus Rasul mempertemukan dua devosi dalam satu pengalaman iman. Dari Bunda Maria, mereka melanjutkan perjalanan menuju Santo Petrus, dengan harapan membawa pulang kekuatan spiritual yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di Lewouran, ziarah tidak berhenti ketika para peziarah meninggalkan gereja dan kembali ke rumah masing-masing. Maknanya justru diuji setelah mereka pulang: apakah doa melahirkan kepedulian, apakah iman menguatkan persaudaraan, dan apakah pengalaman rohani mendorong mereka hadir bagi orang-orang yang membutuhkan.
Di kampung kecil Flores Timur itu, harapan tumbuh dari kesederhanaan. Sebab, iman tidak hanya dirayakan dalam doa, tetapi juga dihidupi melalui pelayanan, solidaritas, dan tindakan kasih terhadap sesama. (SJS/Tim Jakarta). **
Penulis Media Sejahtera Indonesia
Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik



Saat ini belum ada komentar