Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional » Refleksi Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2025 ; Soekarno,Ende dan Katolik

Refleksi Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2025 ; Soekarno,Ende dan Katolik

  • account_circle Media Sejahtera Indonesia
  • calendar_month Minggu, 1 Jun 2025
  • visibility 104
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Tuan Sukarno. Jika suatu saat Tuan kembali lagi ke Ende, Tuan akan datang sebagai presiden Indonesia.” ( Pater Huijtink meramalkan).

Jakarta,msinews.com-Hari ini tepat tanggal 1 Juni. Masyarakat dan bangsa Indonesia memperingati hari lahirnya Pancasila, sebagai dasar negara NKRI, yang dirumuskan dan diusulkan oleh Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI), merupakan hasil dari perjuangan panjang dan diskusi antara tokoh-tokoh bangsa dalam merumuskan dasar negara yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi bangsa Indonesia.

Memang perumusan Pancasila tidak hanya dilakukan oleh Soekarno, tetapi juga melibatkan tokoh-tokoh lain seperti Mohammad Yamin, Mr. A.A. Maramis, dan anggota BPUPKI lainnya. Mereka berdiskusi dan berdebat untuk menyepakati rumusan yang paling tepat.

Pancasila sebagai dasar negara tidak hanya menjadi pedoman bagi bangsa Indonesia dalam bernegara, tetapi juga merupakan ideologi dan pandangan hidup bangsa. Pancasila mencerminkan nilai-nilai luhur yang dianut oleh bangsa Indonesia, seperti ke-Tuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial.

Lahirnya Pancasila tidak dalam waktu singkat. Soekarno menghabiskan waktu sekitar 4 tahun di tempat pengasingan oleh Kolonial Belanda. Dari Jawa ia dibuang ke Ende,Flores,NTT. Selama di Ende, Soekarno membangun komunikasi aktif bahkan sangat-sangat rutin dengan dua orang biarawan katolik asal Belanda yakni Pater Geradus Huijtink, SVD dan Pater Dr. Johannes Bouma, SVD pada masa-masa pembuangan Bung Karno di Ende dari 14 Janauari 1934 sampai dengan 18 Oktober 1938.

Mengutip unggahan di laman face book milik Dr.Gempar Soekarnoputra, bahwa terdapat 12 naskah karya Soekarno di Kelimoetoe Toneel Club, sebuah grup teater beranggotakan masyarakat setempat. Salah satu naskahnya yang misterius berjudul Indonesia 45.
Dikisahkan, saat datang ke Ende 1951, Sukarno seperti menjawab harapan Pater Geradus Huijtink, SVD . Ketika kembali ke Ende setelah dirinya manjadi Presiden NKRI Pertama, dari atas podium, di lapangan Ende, Soekarno berkata:

“Ketika saya berada di Ende tahun 1934 saya berkenalan dengan seorang pater yang bernama Huijtink. Adakah pater tersebut di antara saudara-saudara?”

Pater Geradus Huijtink, SVD pun mengangkat tangan. Soekarno memintanya maju ke podium.

“Dulu, aku datang ke Ende sebagai tahanan dan orang buangan dan Pater Huijtink banyak sekali membantuku. Sekarang, aku kembali ke Ende sebagai presiden. Apa yang Pater Huijtink minta dari presiden?” kata Soekarno.

Pater Geradus Huijtink, SVD pun menjawab dengan cepat, “Tuan Presiden, saya tidak meminta apa pun yang lain. Saya hanya punya satu keinginan: menjadi warga negara Indonesia.”

Tak butuh waktu lama. Soekarno spontan menanggapi permintaan Huijtink, “Sejak saat ini saya sebagai Presiden Republik Indonesia memutuskan untuk memberikan kewarganegaraan kepada Pater Huijtink. Hal-hal yang menyangkut urusan administratif akan diatur di kemudian hari.” kata Soekarno.

Pater Geradus Huijtink akhirnya tercatat sebagai warga negara Indonesia dan mengabdikan hidupnya sebagai pastor di Ende. Ia meninggal dan dimakamkan di sana juga.

Selain itu, dalam otobiografinya, Soekarno juga mengaku belajar agama Kristen kepada Pater Frans van Lith, seorang imam Yesuit asal Oirschot, Belanda, yang meletakkan dasar karya Katolik di Jawa.

Serambi Soekarno, di Pendopo Biara SVD, St Yoseph, Ende/istimewa

“Kupelajari agama Kristen pada Van Lith. Aku terutama menaruh perhatian pada Khotbah di Atas Bukit. Inspirasi Yesus menyemangati orang‐orang syahid yang mula‐mula, karena itu mereka berjalan menuju kematiannya sambil menyanyikan Zabur pujian untuk‐Nya, karena mereka tahu: Kami meninggalkan Kerajaan ini, akan tetapi kami akan memasuki Kerajaan Tuhan.”

“Aku berpegang teguh pada itu. Aku membaca dan membaca kembali Injil. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak asing lagi bagiku. Aku seringkali mengulang mempelajarinya. Kemudian aku membaca Al Quran.” ujarnya.

Adapun, peran Pater Van Lith sangat besar dalam perkembangan agama Katolik di sekitar Jawa Tengah seperti Semarang dan Magelang. Ia juga seorang tokoh pendidik, yang mendirikan sejumlah sekolah Katolik untuk pribumi.

Sebagaimana dikisahkan, bahwa pada tahun 1911 dibuka secara resmi seminari (sekolah calon pastor) pertama di Indonesia. Satu lulusan di antaranya adalah Soegijapranata, yang kemudian menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang—uskup pertama pribumi.
Uskup Soegija sangat dekat dengan Soekarno. Ketika Revolusi Indonesia berkecamuk, Soegija menggalang kekuatan umat Katolik untuk mendukung penuh kemerdekaan Indonesia. Semboyannya yang terkenal adalah ”100% Katolik, 100% Indonesia.”

Hubungan yang sangat dekat secara emosional, Soekarno pun tak rela Soegija yang meninggal di Belanda pada 22 Juli 1963 dimakamkan di sana. Sukarno ingin Soegija dimakamkan di Indonesia. Jenazah pun segera dibawa pulang. Setahun berikutnya, Sukarno mengangkat Soegija sebagai pahlawan.

Pater Van Lith juga melahirkan tokoh penting Indonesia lain, sebutlah Ignatius Joseph Kasimo yang merupakan pendiri Partai Katolik Indonesia. Kasimo adalah bagian pelopor kemerdekaan, yang menjadi menteri beberapa kali dalam pemerintahan Soekarno,salah satunya Frans Seda,asal Flores,yang juga saat masih sekolah di Ndona kenal dekat dengan Soekarno.

Tak hanya itu, ide kebangsaan Soekarno tentang ‘Bhineka Tunggal Ika’ akhirnya memang diterima dunia, tak terkecuali oleh Tahtah Suci Vatikan, pusat gereja Katolik. Tak tanggung-tanggung, Soekarno tercatat menerima tiga medali kehormatan tertinggi dari Vatikan.
Medali pertama diterima pada 13 Agustus 1956 dari Paus Pius XII. Yang kedua dari Paus Yohanes XXIII, pada 14 Mei 1959. Ketiga kalinya, pada 12 Oktober 1964, Paus Paulus VI yang menyematkannya.

Saat kunjungan terakhirnya ke Vatikan Soekarno bahkan dibuatkan perangko khusus dan dihadiahi lukisan mosaik Castel san Angelo Vatican.

“Aku seorang Islam yang hingga sekarang telah memperoleh tiga buah medali yang tertinggi dari Vatikan. Bahkan presiden dari Irlandia pun mengeluh padaku bahwa ia hanya memperoleh satu,” kata Soekarno.

Sumber ; face book/kumparan.
Editor; tim redaksi msinews.com/domi.

Penulis

Laju Informasi Pengetahuan Masyarakat Indonesia yang Transpran, Adil dan Maju Guna Pembagunanan NKRI Lebih Baik

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menteri PUPR

    Menteri PUPR WWC XVIII di Cina, Bahas Kolaborasi Bendungan

    • calendar_month Senin, 11 Sep 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Jakarta – Menteri PUPR Basuki Hadimuljono melakukan pertemuan bilateral dengan Minister Water Resources of China (Menteri Sumber Daya Air China), Li Guoying. Kunjungan Basuki untuk menghadiri World Water Congress (WWC)  XVIII di Beijing. Dalam kesempatan tersebut Menteri Basuki menyampaikan beberapa hal terkait peluang kolaborasi dan kerja sama dengan pemerintah China terkait pembangunan infrastruktur sumber daya […]

  • Mahfud MD : Budi Arie Pantas Diseret ke Kursi Terdakwa dalam Kasus DugaanJudi Online

    Mahfud MD : Budi Arie Pantas Diseret ke Kursi Terdakwa dalam Kasus DugaanJudi Online

    • calendar_month Senin, 7 Jul 2025
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com – Sebuah tembakan telak meluncur dari mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD. Hal tersebut terkait Dugaan keterlibatan Budi Arie Setiadi, mantan Menteri Komunikasi dan Informatika, dalam labirin skandal backing judi online. Ia secara terang-terangan menyebut Budi Arie adalah figur yang paling pantas diseret ke muka pengadilan. Dalam sesinya di Pos […]

  • Negara Tak Bisa Sendiri Bangun Infrastruktur, Sudjatmiko: Perlu Sinergi BUMN dengan Swasta

    Negara Tak Bisa Sendiri Bangun Infrastruktur, Sudjatmiko: Perlu Sinergi BUMN dengan Swasta

    • calendar_month Sabtu, 14 Jun 2025
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com – Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKB Sudjatmiko, S.T., menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam pembangunan infrastruktur nasional. Hal tersebut disampaikan saat menghadiri International Conference on Infrastructure (ICI) 2025, sebuah forum internasional yang mempertemukan pemangku kepentingan dari pemerintah, BUMN, swasta, hingga akademisi. Dalam keterangannya tertulisnya, Sudjatmiko menyebut bahwa konferensi ini bukan sekadar ajang […]

  • Atasi Sindrom ‘Baby Blues’ Pada Ibu, Nur Nadlifah : Pemerintah Harus Turun Tangan

    Atasi Sindrom ‘Baby Blues’ Pada Ibu, Nur Nadlifah : Pemerintah Harus Turun Tangan

    • calendar_month Rabu, 6 Sep 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 153
    • 0Komentar

    Jakarta,Infomsi.org-Anggota Komisi IX DPR RI Nur Nadlifah mendorong pemerintah untuk turun tangan atasi sindrom baby blues yang kerap terjadi pada seorang ibu yang baru melahirkan. Ia menekankan perlunya penguatan mental bagi para perempuan. Kondisi psikologis perempuan utamanya para ibu harus mendapatkan perhatian. “Sudah bagus ketika program BKKBN kita diimbau untuk melahirkan tidak terlalu dini, tidak terlalu […]

  • Presiden Hingga Para Menteri Kabinet Hadiri Shalat Ied di Masjid Istiqal Jakarta

    Presiden Hingga Para Menteri Kabinet Hadiri Shalat Ied di Masjid Istiqal Jakarta

    • calendar_month Rabu, 10 Apr 2024
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Jakarta,msinews.com-Hari ini seluruh Umat Islam sedunia merayakan Iduf Fitri 1445 Hijriah. Di Jakarta khususnya di Masjid Agung Istiqal Jakarta Pusat Salat Ied berjalan khusus. Ribuan Jemaah sejak subuh telah mendatangi halaman Masjid Istiqal yang megah utuk menjalankan ibadah salat ied. Sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju (KIM) tampak hadir di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu (10/4/2024). Mereka […]

  • Terima Bantuan Kemensos, Penyandang Disabilitas di Solo Optimistis Usaha Jahitnya Makin Berkembang

    Terima Bantuan Kemensos, Penyandang Disabilitas di Solo Optimistis Usaha Jahitnya Makin Berkembang

    • calendar_month Minggu, 3 Sep 2023
    • account_circle Media Sejahtera Indonesia
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Jakarta, Senyum bahagia mengembang di bibir Sri Hartanti. Nama penyandang disabilitas ini masuk salah satu penerima bantuan untuk usahanya dari Kementerian Sosial. Sudah sekian tahun sejak usaha menjahit ia tekuni, baru kali ini mendapat bantuan pemerintah. Ucapan syukur terlontar ketika Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso di Surakarta memberinya bantuan mesin obras berikut mejanya. Selain itu […]

expand_less